Shin Tae-yong Mulai Membuat Suporter Bola Indonesia “move on” dari Luis Milla

Menerima pinangan menangani Timnas Indonesia yang terbilang medioker, Shin Tae-Yong dihadapkan pada tantangan sekaligus harapan yang sama sekali tidak sepele. Berstatus sebagai mantan pelatih Korea Selatan yang tampil mengesankan di Piala Dunia, kedatangannya ke Indonesia mungkin juga bisa dikatakan “turun kasta”.

Membawa sepakbola Indonesia meraih prestasi sudah pasti menjadi tuntutan utama di balik lembar kontrak Shin Tae-Yong dengan PSSI. Targetnya apalagi kalau bukan tampil bagus pada Piala Dunia U-20 yang akan dihelat di Indonesia tahun depan.

Untuk itu berlapis-lapis masalah harus lebih dulu diurai oleh Shin Tae-Yong mengingat sepakbola Indonesia jauh tertinggal dalam banyak aspek. Indonesia memang punya banyak pemain sepakbola, tapi terlalu sedikit yang mampu bertanding dengan standar “juara”.

Sederet pelatih yang datang dan pergi telah membuktikan betapa sulitnya membuat Timnas Indonesia tampil sebagai pemenang. Jangankan di level Asia atau Dunia, di level regional yang sempit pun sepakbola Indonesia suram auranya.

Ada secercah harapan ketika Luis Milla datang. Berlabel mantan pemain klub raksasa Real Madrid dan Valencia, serta pernah sukses menghadirkan tropi piala Eropa bagi tim muda Spanyol, Luis Milla juga menghadapi tuntutan prestasi di tengah tumpukan keterbatasan dan kekurangan sepak bola Indonesia.

Meski demikian dalam masa baktinya yang singkat, Luis Milla ternyata mampu merebut hati suporter sepakbola Indonesia. Sentuhan Luis Milla membuat timnas bermain dengan cara yang menarik serta gaya permainan yang lebih segar.

Paling kentara di Asian Games Jakarta-Palembang. Walau tak mampu melangkah jauh, Luis Milla berhasil menampilkan tim sepakbola Indonesia yang sangat bergairah di lapangan. Meski tanpa medali, Luis Milla dan Timnas Indonesia membuat suporter Indonesia bahagia.

Bagi banyak suporter Indonesia, Luis Milla adalah mantan terindah. Dan sepertinya kesan yang sama pun dirasakan oleh Luis Milla terhadap pengalamannya memoles Timnas Indonesia.

Lihat saja akun media sosialnya, terutama instagram @luismillacoach. Hingga detik ini Milla masih “menggunakan” seragam latihan Timnas Indonesia. Ia juga masih suka membagikan cerita pengalamannya saat memoles tim Garuda. Sejumlah foto dan konten diunggahnya lengkap dengan caption menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan, ia turut memberikan ucapan selamat pada HUT ke-75 RI yang lalu.

Separuh hati Luis Milla sepertinya tertambat pada (sepakbola) Indonesia. Hubungannya dengan beberapa pemain Indonesia juga tampak erat. Interaksinya dengan sejumlah bekas anak asuhnya masih bisa diikuti hingga kini. Bukti nyata bahwa Indonesia meninggalkan kesan mendalam bagi Milla.

Banyak anggapan bahwa Luis Milla belum move on dari Indonesia. Begitu pula banyak suporter Indonesia masih mengharapkan Luis Milla sebagai “coach”.
Itulah mengapa bisa dimengerti ketika Shin Tae-Yong datang publik tidak segera menyambutnya dengan antusias. Shin Tae-Yong dan Luis Milla sama-sama pelatih hebat kelas dunia. Tapi Luis Milla yang lebih dulu datang terlanjur sulit dilupakan.

Ada sedikit resistensi dan pesimisme di benak supertor bola tanah air dalam menyambut Shin Tae Yong. Ditambah kontroversi dan konflik yang timbul pada masa awal kedatangannya. Kita masih ingat saat Shin Tae Yong melempar kritik tajam pada pemain Indonesia yang dinilainya tidak cukup mampu bermain lama di lapangan.

Masalah fisik memang salah satu kekurangan mencolok pesepak bola Indonesia. Tapi belum pernah ada pelatih sebelumnya yang secara frontal menyampaikannya sebagai kelemahan. Kritik Shin Tae-Yong segera direspon beragam oleh sejumlah pihak. Ada yang menganggapnya biasa dan wajar, tapi tak sedikit yang menganggap ucapan Shin Tae Yong sebagai sesuatu yang menyakitkan dan tidak elok.

Satu polemik belum reda, konflik yang lain mengemuka. Di tengah pandemi Covid-19 yang membuatnya harus meninggalkan Indonesia untuk waktu yang agak lama, Shin Tae Yong membuat panas telinga beberapa pihak. Ia merasa tidak nyaman dengan beberapa kebijakan dan perilaku orang PSSI. Shin Tae Yong tak puas karena rencana latihan Garuda Muda tak berjalan mulus. Akibatnya, ia dan sejumlah nama pengurus utama PSSI, seperti Sekjen Indra Sjafri, saling berbalas sindiran.

Beberapa hal di atas membuat publik sepakbola Indonesia membandingkan Shin Tae-Yong dan Luis Milla secara lebih jauh. Pelatih asal negeri ginseng tersebut dipandang membawa gaya kepelatihan dan pendekatan yang sangat berbeda. Jika Luis Milla yang dikenal kalem dan hangat mengandalkan pendekatan personel pemain, maka Shin Tae Yong diyakini lebih lugas dan kaku.

Polemik dan kontroversi yang disebutkan di atas mempertegas gambaran tentang hal itu. Belumlah menangangi tim di lapangan, ia justru membuat gaduh di luar lapangan. Oleh karena itu, banyak yang memprediksi Shin Tae-Yong akan segera dipecat.

Namun, prediksi tersebut tak terbukti. Sekembalinya dari Korea Selatan, Shin Tae-Yong “berdamai” dengan PSSI. Rencana pemusatan latihan di luar negeri dikabulkan oleh PSSI. Bukan ke Korea Selatan seperti rencana awal, melainkan ke benua biru Eropa.

Bersama Shin Tae Yong, Timnas U-19 saat ini sedang berlatih dan menimba pengalaman di Kroasia. Rencana berikutnya tim akan beranjak ke Turki.

Sejumlah pertandingan melawan tim-tim kuat sudah dijalani. Sejauh ini Timnas dihajar oleh Bulgaria dan Kroasia dengan skor telak. Walau demikian grafik perkembangan tim dinilai membaik. Shin Tae-Yong sukses memimpin Timnas U-19 menahan imbang Arab Saudi 3-3, menang 2-1 dan imbang 1-1 dalam dua kali laga melawan Qatar.

Shin Tae-Yong mengakui jika tim asuhannya masih memiliki sejumlah kekurangan dan kelemahan yang harus diperbaiki. Ia pun meminta pengertian kepada masyarakat Indonesia jika dalam uji tanding Timnas U-19 mengalami banyak kekalahan. Timnas baru mulai dibentuk dan sedang berproses. Begitulah Shin Tae Yong menggambarkan perjalanannya sekarang dengan Timnas U-19.

Namun, keberhasilan meladeni dua tim kuat Asia sudah cukup membuat suporter bola Indonesia merasa antusias. Imbang melawan Arab dan menang melawan Qatar dipandang sebagai tanda-tanda yang menjanjikan bahwa tim asuhan Shin Tae Yong akan tampil lebih baik di pentas Asia dan dunia.

Perlahan suporter bola tanah air juga memahami makna di balik kritik tajam Shin Tae Yong terhadap buruknya stamina dan fisik pesepak bola Indonesia. Latihan intensitas tinggi yang diberikan oleh Shin Tae-Yong pada Timnas U-19 hingga membuat sejumlah pemain kelelahan dan pingsan adalah bagian dari pembuktikan Shin Tae Yong. Ia ingin menunjukkan bahwa kritikannya bukan ditujukan untuk menghancurkan tim, melainkan sebagai titik mula atau pondasi membangun Timnas U-19 yang lebih tangguh.

Menarik melihat pendekatan Shin Tae-Yong yang segera menangkap masalah utama pemain dan menetapkannya sebagai sasaran serta prioritas kepelatihannya. Caranya membedah kekurangan Timnas dan keberaniannya untuk memperlihatkan kelemahan anak asuhnya disertai dengan strategi latihan yang dirancangnya secara jeli. Ia menyiksa fisik pemain lewat latihan tiga kali sehari, melarang pemain mengkonsumsi makanan yang digoreng dan pedas, menetapkan makanan yang wajib dikonsumsi, serta mengharuskan pemain menimbang berat badannya setiap hari.

Masalah fisik dibenahinya dengan pendekatan disiplin yang ketat. Dengan disiplin pemain bisa mendapatkan ketangguhan dan ketahanan fisik yang menjadi syarat untuk menghadirkan permainan berkualitas. Disiplin dan latihan fisik yang tinggi juga memberi peluang yang besar kepada pemain untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kemampuannya ke level maksimal.

Tentu saja pendekatan disiplin ala Shin Tae-Yong memiliki konsekuensi dan segera memakan korban. Beberapa nama yang semula jadi langganan tim justru tersisih. Shin Tae Yong benar-benar hanya menginginkan pemain yang memiliki kesadaran diri untuk berkembang.

Tampaknya ia menyukai pemain yang motivasi disiplinnya bukan bersumber dari tuntutan untuk patuh, melainkan dari keinginan dan kesadaran untuk meningkatkan kualitas. Pemain-pemain dengan karakter seperti demikian akan mampu memaksimalkan program latihan.

Menarik pula memahami bagaimana Shin Tae-Yong mengukur hasil penyiksaan fisik terhadap para pemainnya. Tak tanggung-tanggung ia menyodorkan Timnas U-19 ke hadapan tim-tim kuat asal Eropa dan Asia. Risiko kekalahan telak disadari olehnya. Tapi ada manfaat lain yang dibidik oleh Shin Tae-Yong dengan berani menantang Kroasia, Bulgaria dan Arab Saudi sekaligus.

Melawan tim-tim kuat, Shin Tae-Yong ingin mengukur faktor lainnya yang masih lemah yakni mentalitas bertanding Timnas. Bersamaan dengan itu ia bisa mengevaluasi sejauh mana perbaikan fisik pemain berdampak pada kekuatan mental saat bertanding. Dalam pertandingan sepakbola fisik dan mental ibarat sepasang kaki.

Latihan fisik yang intensif segera dipadukan dengan uji mental dalam pertandingan melawan tim-tim yang lebih kuat. Dengan mula-mula melawan tim Eropa yang jauh lebih unggul dan akhirnya kalah telak, kemudian baru melawan tim asal Asia, Shin Tae-Yong bisa mengukur ketangguhan para pemainnya saat terpuruk dan berusaha bangkit lagi.

Tekanan melawan tim Eropa tentu tidak ringan. Akan tetapi Timnas U-19 dipaksa menghadapinya dengan konsekuensi kebobolan berulang kali. Pada saat seperti itulah tim harus memiliki daya tahan yang tinggi baik secara fisik dan mental. Shin Tae-Yong berusaha membuat Timnas U-19 terbiasa dengan tekanan hebat semacam itu.

Menghadapi tim yang unggul secara teknik, fisik dan pengalaman akan selalu dijumpai di kompetisi level tinggi. Berjumpa dengan tim dengan gaya permaianan yang berbeda juga tak bisa dihindari. Hal tersebut dirasakan oleh Timnas U-19 saat harus menghadapi Bulgaria, Kroasia, Arab Saudi dan Qatar secara beruntun.

Dalam situasi semacam itu, para pemain dilatih untuk mengembangkan daya adaptasi yang cepat dan baik. Kemampuan adaptasi membutuhkan tiga perangkat, yakni fisik, mental, dan intelegensi. Jika fisik digembleng dengan latihan berat dan mental diuji dengan menghadapi tim-tim kuat, maka intelegensi diasag dengan bertanding menghadapi banyak tim dengan gaya permainan yang berbeda.

Begitulah yang sedang dilakukan Shin Tae-Yong dengan Timnas U-19. Ia memang mengatakan ingin fokus memoles fisik dan stamina pemain terlebih dahulu, Namun, yang dikerjakan sebenarnya ialah membangun pondasi tim dari banyak lini sekaligus. Sejauh ini hasilnya terlihat positif. Kalah, seri, menang sudah dirasakan oleh Timnas U-19 melawan tim-tim yang lebih kuat dan mapan.

Perlahan Shin Tae-Yong membuat superter bola tanah air merasa antusias dan menyukai sentuhannya. Luis Milla memang mantan terindah, tapi bersama Shin Tae-Yong Timnas (U-19) juga bisa bergairah.