Presiden Persebaya Rinci Kebutahan Klub hingga Minta Subsidi Rp7,2 Miliar

Meski tak langsung menyebutkan alasan menolak mengikuti lanjutan , diduga karena masalah keuangan.

Sebelumnya, Manajer Klub , , bahkan secara tegas meminta kompensasi dana Rp7,2 miliar jika Persebaya ingin ikut kompetisi.

Alasannya, karena laga lanjutan Liga 1 2020 digelar tanpa penonton dan Persebaya kehilangan salah satu sumber pemasukan terbesar tim.

Setelah manajer tim, giliran Presiden Klub Persebaya, , yang angkat bicara soal kelanjutan Liga 1 2020.

Azrul membedakan mengapa kompetisi di luar negeri masih bisa berlanjut sementara di belum, meski sama-sama dilanda pandemi Covid-19.

Azrul kemudian merinci sisi pemasukan klub. Untuk klub luar negeri, menurutnya pemasukan utama klub berasal dari operator atau pihak liga dari dana sponsor.

“Hasil dari jumlah penonton dan sponsor di jersey, hanya bonus saja,” ujar Azrul Ananda saat jadi pembicara di salah satu kanal Youtube.

Azrul mnambahkan, selama ini subsidi yang diterima dari pihak operator tidak banyak. Itu hanya bisa menambal 10 persen dari pengeluaran tim.

Sehingga, 90 persen kebutuhan lainnya harus bisa mencari dengan mandiri, salah satunya lewat jalinan dengan sponsor dan pemasukan tiket pertandingan.

Sebab itu Azrul berpesan, liga harus disehatkan terlebih dahulu. Menurutnya, jika liga sehat, klub akan ikut sehat. “Pemain akan merasakan manfaatnya,” katanya.

Manajemen Persebaya sebelumnya menolak tawaran subsidi Rp800 juta per bulan dari . Pihak Persebaya merasa jumlah itu masih kurang.

Menurut Persebaya, subsidi yang ideal untuk klub per bulan adalah Rp1,2 miliar. Jumlah ini bisa menutupi antara pengeluaran dan pemasukan klub.

Menurut Azrul, dana itu harus dicairkan sejak September atau satu bulan sebelum Liga 1 dimulai pada Oktober 2020.

Jika skema demikian yang diterapkan, mulai September hingga Liga 1 2020 berakhir pada Februari 2021, dana yang didapat klub sebesar Rp7,2 miliar.

Berita Terkait