Ini Alasan Arema Gagal Lagi Tembus Final

Ini Alasan Arema Gagal Lagi Tembus Final

Mental juara Arema Cronus masih belum pulih sejak ditinggal mendiang pelatih Suharno pada Agustus 2015. Pada dua turnamen besar, Piala Presiden dan Piala Jenderal Sudirman (PJS) ketebalan mental Arema hanya mentok di babak semifinal.

Pada Piala Presiden, Arema kandas setelah disingkirkan Sriwijaya FC dengan agregat 3-2. Momok di semifinal seakan terulang lagi setelah tim berjuluk Singo Edan kalah adu penalti di pertandingan semifinal Piala Jenderal Sudirman kontra Mitra Kukar, Minggu (17/1). Padahal Arema memiliki segalanya untuk memenangi laga.

Status tuan rumah dengan dukungan 40 ribu suporter Aremania, menguasai pertandingan, lebih banyak peluang, beruntung mendapatkan penalti, serta unggul jumlah pemain di babak kedua. Nyatanya segala keunggulan tersebut sama sekali tidak berguna.

Arema tetap tidak memiliki mental seperti saat menjuarai lima turnamen sepanjang 2015. Situasinya seakan mirip di kedua semifinal, terlalu percaya diri di leg pertama hingga gagal menang dan kemudian justru berada dalam tekanan ketika memainkan laga wajib menang di petemuan kedua.

Pelatih Arema Cronus Joko Susilo tidak bisa mendeskripsikan laga yang seharusnya mutlak milik timnya. “Sepanjang 90 menit, kekuatan Arema dan Mitra terbukti berimbang karena agregat 3-3. Tapi kalau soal tendangan penalti, ada unsur mental dan keberuntungan,”dalih Joko Susilo.

Mental yang dimaksud adalah tekanan yang dirasakan pemain karena memikul ekspektasi besar dari puluhan ribu Aremania di Stadion Kanjuruhan. “Tidak mudah memang. Saya juga tidak menyalahkan pemain yang gagal mengeksekusi penalti,” tambah Joko.

Kegagalan Arema di semifinal sangat kontras dengan keperkasaan mereka sepanjang babak penyisihan dan perempatfinal. Tim Singo Edan selalu memenangi pertempuran dalam tujuh pertandingan, hingga rekor tersebut terhenti oleh soliditas Mitra Kukar di Stadion Aji Imbut pada leg pertama semifinal.

Bukti bahwa mental Arema masih terlalu labil juga terlihat bagaimana mereka merespons permainan keras Naga Mekes. Dikartu merahnya Tony Espinosa karena berseteru dengan Abdul Gamal, menjadi bukti bahwa aspek emosional Singo Edan terlampau mudah dieksploitasi lawan.

“Ya, itu (emosi) adalah salah satu masalah yang dihadapi Arema. Setelah unggul satu gol, seharusnya kami fokus pada permainan dan mencari gol kedua agar lebih nyaman. Tapi nyatanya pemain malah emosional dan ada yang terkena kartu merah (Tony Espinosa),”beber Joko.

Kerugian Arema karena gagal lolos ke final seakan berlipat, karena mereka menunjukkan awal yang bagus di Piala Jenderal Sudirman 2015. Mereka sudah membuat awal yang jauh lebih meyakinkan dibanding Piala Presiden. Namun nyatanya tetap terganjal mental yang maksimal hanya berlaku hingga babak semifinal.