Tergerus Zaman, Slemania Dekati Anak Muda demi Eksistensi sebagai Fans Militan PSS

PSS Sleman pernah memiliki basis suporter yang begitu besar, yaitu Slemania. Organisasi suporter resmi pertama PSS itu eksis ejak awal milenium atau tahun 2000.

Slemania memiliki banyak anggota dan selalu identik dengan warna hijau khas PSS. Slemania pernah mencapai masa kejayaan dengan memiliki pengikut yang luar biasa besar, terutama ketika PSS masih berkandang di Stadion Tridadi.

Lambat laun, Slemania seperti tergerus zaman. Perlahan jumlah anggota mereka berkurang. Anggota mereka yang dulu pernah mencapai angka puluhan ribu orang ketika mendukung PSS di stadion, kini hanya tinggal dua ribuan saja.

Banyak Slemania yang memilih menyeberang menjadi anggota Brigata Curva Sud (BCS) dengan aliran ultras. Jika dulu kandang PSS begitu identik dengan warna hijau, kini terlihat hitam khas BCS.

Meski demikian, Slemania masih berdiri tegak hingga sekarang. Walau jumlahnya tidak sebanyak dulu, aksi-aksi yang ditunjukkan Slemania cukup atraktif.

Ketum Slemania, Rengga Dian Senjaya belum lama ini bercerita banyak mengenai kondisi teraktual Slemania seiring perkembangan dunia suporter Indonesia. Ia dan para pengurus sekarang pun dituntut untuk terus melahirkan ide-ide hebat, demi eksistensi Slemania.

“Mendesain ulang postingan di media sosial, tidak terlalu kaku, segmentasi anak muda bisa mencair. Biar organisasi berjalan tidak terlalu resmi, anak muda tidak sungkan masuk bergabung,” terang Rengga Dian Senjaya dalam podcast PSS.

Memasuki era digital, Slemania tidak berhenti berkreasi di dunia maya. Banyak interaksi yang dilakukan dengan anak-anak muda di Sleman dan para pendukung PSS, menjadikan Slemania masih ada di hati sebagian fans tim Elang Jawa.

“Satu di antaranya ingin kembali menghidupkan website Slemania, yang sudah ada jauh sebelum PSS punya website sendiri. Biar kembali diterima oleh masyarakat secara umum, tidak hanya fans PSS saja,” katanya.

Saatnya Anak Muda Bicara

Hal yang dilakukannya bersama jajaran pengurus Slemania lain, tak lepas dari kecintaan kepada klub berlogo candi tersebut sejak lama. Bagi Rengga, inspirasinya menyasar segmen kawula muda berawal ketika bekerja di sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta beberapa tahun lalu.

Menurut Rengga, Slemania dulu lebih banyak jalan di tempat, sehingga perlu dipegang generasi muda. Sementara, ia juga merasa tidak terbebani untuk memimpin Slemania dan siap menerima masukan serta arahan dari para anggotanya atau pentolan Slemania.

“Tujuan kami semua tetap sama, mendukung PSS. Karena orang awam melihat besarnya suporter ada di jumlah masanya dan Slemania ingin kembali seperti itu. Untuk itu ayolah kita rawat lagi rumah tua dan usang, sama-sama bergotong royong, memerlukan pemikiran Slemania lawas dari manapun. Saya butuh pendapat mereka,” tambahnya.

“Saya pribadi mengalir saja, saya nikmati dan nyaman. Kalau beban jelas beban adanya orang memberikan kepercayaan, dan harus ada tanggung jawab yang saya emban,” jelas Rengga Dian Senjaya menutup perbincangan. (Bola.com)