Ansyari Lubis Ungkap Keinginan Melatih Klub Besar di Indonesia

Ketika masih aktif sebagai pesepak bola, Ansyari Lubis dikenal sebagai gelandang cerdas sekaligus pencetak gol buat tim yang dibelanya. Baik di level klub mau pun Timnas Indonesia.

Kelebihan inilah yang membuat Uwak, sapaan akrabnya, pernah menyandang status sebagai pemain dengan kontrak termahal di Indonesia. Ini terjadi ketika Pelita Jaya membelinya dari Medan Jaya dengan nilai transfer Rp25 juta jelang musim 1993/1994 kompetisi Galatama.

Selain Medan Jaya dan Pelita Jaya, Uwak juga pernah berkostum Persib Bandung, PSDS Deli Serdang, PSGS Gayo Lues, dan Pro Duta FC. Bersama klub terakhir inilah, Ansyari Lubis kemudian pensiun sebagai pemain dan meneruskan karier menjadi pelatih sejak 2013 silam.

Dalam kanal YouTube Lae Tape, Uwak menceritakan kiprahnya sebagai pelatih. Setelah menangani Pro Duta, Ansyari Lubis menjadi asisten pelatih di PSMS Medan pada 2016 dan kemudian menangani Aceh United musim berikutnya.

Bersama Aceh United, Ansyari meraih sukses dengan membawa tim asuhannya promosi ke Liga 2. Ia sempat menangani PSPS Riau sebelum kembali ke PSDS Deli Serdang pada 2018.

Pria berusia 50 tahun itu kemudian menjadi arsitek klub Liga 3, Karo United yang dibawanya menembus 16 Besar Putaran Nasional pada 2019.

Pada tahun yang sama, Ansyari juga menjadi pelatih tim sepak bola Sumatera Utara di Pra PON dan berhasil meloloskan skuadnya itu ke PON 2021 Papua, Oktober mendatang.

Tahun lalu, selain berstatus pelatih tim PON Sumut, Ansyari mendampingi Gomes de Oliveira menangani PSMS Medan di Liga 2 2020 yang sayangnya harus terhenti.

“Saya memang ingin menjadi pelatih setelah pensiun sebagai pemain. Itulah mengapa saat masih bermain, saya mengikuti kursus kepelatihan secara berjenjang,” terang Ansyari Lubis yang sudah mengantongi sertifikat kepelatihan lisensi A-AFC.

Ingin Melatih Klub Besar

Selain menekuni profesi sebagai pelatih, Uwak juga bersatus sebagai ASN di Kabupaten Serdang Bedagai. Status ASN tak menyurutkan keinginan Ansyari Lubis melatih tim besar yang bermain di kompetisi kasta tertinggi.

Bekal sebagai eks gelandang papan atas di Indonesia plus ilmu kepelatihan yang memadai jadi modal Uwak untuk memujudkan keinginannya tersebut.

“Sampai saat ini, saya terus belajar untum meningkatkan dan mengasah ilmu kepelatihan saya,” ungkap Uwak.

PON Papua 2021 mendatang bisa menjadi momen terbaik buatnya unjuk kemampuan. Ia pun mematok target minimal menembus final.

“Target harus tinggi. Untuk apa kita latihan keras kalah hanya sekadar ikut berpatisipasi,” tegas Uwak yang mejadi pilar skuad Timnas Indonesia saat meraih medali perak di SEA Games 1997 itu.

Menularkan Target Tinggi

Target tinggi yang dipatok Uwak ditularkan ke pemainnya. Di mana pada setiap kesempatan dalam latihan ia meminta para pemainnya memanfaatkan PON Papua nanti sebagai ajang menjual diri.

“Banyak pemain yang menjadi besar setelah bermain di PON. Ajang itu ibarat etalase di mana para pencari bakat klub memantau pemain,” terang Uwak yang berhasil mempersembahkan medali emas PON 1989 buat Sumatra Utara ketika usianya masih 19 tahun.

Pada kesempatan itu, Uwak juga mengungkap resep suksesnya menjadi pemain papan atas di Indonesia buat pemain muda.

“Resepnya sederhana yakni berlatih keras dan istirahat yang cukup. Sekarang tinggal pemain itu, apakah konsisten menjalankannya atau tidak. Karena tantangannya tentu berbeda sesuai perkembangan jaman,” pungkas Uwak.