Pelatih Kelas Dunia Pernah Beri Pujian ke Empat Pemain Persib Ini

Mendapatkan pujian karena performa apiknya di lapangan tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi para pesepak bola, selain tentunya mampu meraih prestasi baik secara tim maupun individu. Terlebih, pujian itu datang dari tokoh besar dalam dunia sepak bola.

Kebanggaan tersebut nyatanya pernah dirasakan oleh sejumlah pemain Persib Bandung. Rata-rata, pujian dari pelatih internasional dengan nama besar diberikan kepada pemain Persib, ketika klub berjulukan Maung Bandung itu berkesempatan melakoni uji tanding internasional melawan klub papan atas dunia.

Kompas.com merangkum empat nama pemain yang performanya pernah mendapatkan pujian dari pelatih legendaris, saat mereka membela Persib. Siapa saja mereka, berikut ulasannya:

Guus Hiddink dan Uut Kuswendi

Pada Juni 1987, Persib berkesempatan menjajal kekuatan salah satu tim legendaris Belanda, Philips Sport Vereniging (PSV) Eindhoven. Kala itu PSV datang ke Bandung dalam masa persiapan sebelum mengarungi kompetisi musim 1987/1988.

PSV yang saat itu dilatih Guus Hiddink datang ke Bandung dengan membawa para pemain terbaiknya seperti Ruud Gullit, Ronald Koeman, hingga Rud Gijp.

Ketiga nama tersebut juga masuk dalam starting eleven yang diturunkan Hiddink dalam laga yang berlangsung di Stadion Siliwangi, Kota Bandung.

Meski laga tersebut bisa disebut sebagai pertandingan beda kelas, namun Persib cukup memberikan perlawanan bagi PSV. Buktinya, Ruud Gullit berhasil dibuat tak berkutik.

Jangankan untuk mencetak gol, mendapatkan ruang bebas untuk menciptakan peluang saja sulit didapatkan Gullit.

Meski begitu, tetap saja PSV bukan lawan seimbang bagi Persib. Maung Bandung pun akhirnya menyerah enam gol tanpa balas.

Meski begitu, Hiddink tetap memuji permainan yang ditunjukkan Persib, meski Hiddink pun mengaku kecewa karena Persib salah menerapkan strategi permainan.

Dalam buku Persib Undercover yang ditulis oleh Aqwam Fiazmi Hanifan dan Novan Herfiyana, Hiddink mengungkapkan bahwa Persib sebenarnya bisa lebih menyulitkan PSV dengan permainan umpan pendek.

Sayangnya, itu tidak dilakukan Persib. Maung Bandung malah bermain dengan pola permainan umpan panjang yang tentu saja mudah dipatahkan para pemain PSV yang bertubuh jangkung.

“Menghadapi lawan dengan pemain berpostur tinggi, kenapa mereka tidak bermain dengan bola pendek yang cepat saja?” kata Hiddink, seperti tertulis dalam buku Persib Undercover.

Selain itu, Hiddink juga mengapresiasi performa yang ditunjukkan oleh Uut Kuswendi dalam pertandingan tersebut.

Menurut Hiddink, pemain yang berposisi sebagai winger itu tampil brilian, dan pergerakannya sering menyulitkan barisan belakang PSV.

“Meski begitu, dia (Uut Kuswendi) masih harus mematangkan sejumlah teknik dasar dalam permainan sepak bola,” ungkap Hiddink.

Rinus Michels dan Kekey Zakaria

Pada medio 1994 salah satu pelatih legendaris dunia, Rinus Michels, menyambangi Kota Bandung.

Di Kota Kembang, sosok penggagas permainan total football itu berkesempatan hadir dan menyaksikan pertandingan babak penyisihan Liga Indonesia I 1994/1995 antara Persib vs Persiraja Banda Aceh.

Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Siliwangi, 20 Januari 1994 itu Persib menang empat gol tanpa balas atas Persiraja. Kekey turut menyumbang satu gol pada laga tersebut. Seusai laga, Rinus pun langsung dikerubungi wartawan.

Dalam pandangannya, Rinus memuji penampilan Kekey. Dikatakan Rinus, Kekey memiliki pergerakan yang eksplosif sehingga menyulitkan bek lawan. Selain Kekey, pujian juga dialamatkan Rinus kepada Yudi Guntara.

Bagi Kekey, pujian dari Rinus sedikit banyaknya membuat dia semakin terlecut untuk membuktikan bahwa dirinya layak membela Persib.

Seperti diketahui, pada saat itu, performa Kekey sedang disorot Bobotoh. Permainan Kekey dinilai terlalu stylish hingga dirinya kerap kalah duel dengan pemain lawan.

Entah sebuah kebetulan atau tidak, pertandingan melawan Persiraja yang diwarnai pujian dari Rinus Michels terhadap performanya justru membuat ketajaman Kekey semakin terasah.

Sejak saat itu, Kekey pun lebih sering mendapatkan kesempatan bermain. Berduet bersama Sutiono Lamso, Kekey mampu menjadikan lini serang Persib ditakuti lawan. Kekey juga berkontribusi besar dalam kesuksesan Persib meraih gelar juara Liga Indonesia I musim 1994/1995.

“Nah, mungkin dia (Rinus) lihat saya main bagus, akhirnya ya dia kasih komentar ke media. Saya bersyukur dan bangga karena bisa dipuji sama pelatih kelas dunia seperti Rinus Michels,” tutur Kekey.

Fabio Capelo dan Yudi Guntara

Selain Rinus Michels, Yudi Guntara juga pernah mendapatkan pujian dari pelatih dengan nama besar lainnya, Fabio Capello. Momen tersebut terjadi usai laga Persib vs AC Milan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

Saat itu, Persib yang berstatus sebagai juara kompetisi Perserikatan 1993/1994 berkesempatan menjajal kekuatan AC Milan, juara Liga Champions Eropa.

Pertandingan tersebut berlangsung tidak imbang, Persib kepayahan dan menyerah delapan gol tanpa balas.

Kendati demikian, seusai laga, Capello memberikan apresiasi terhadap permainan Persib, terutama kepada Yudi Guntara.

Kepada media, Capello menyebut, Yudi tampil apik dan mampu beberapa kali melewati kawalan pemain Milan.

Pergerakan Yudi sangat eksplosif sehingga sering kali menyulitkan. Capello tak segan menyebut Yudi layak tampil di kompetisi besar Eropa sekelas Serie A Italia.

“Ya, mungkin, waktu di pertandingan itu saya lagi bagus aja mainnya. Jadi dapat pujian dari Fabio Capello. Namun, pujiannya juga tidak langsung disampaikan kepada saya, dia bilangnya di sesi konferensi pers setelah pertandingan,” ungkap Yudi.

Frank de Boer dan Firman Utina

Pada tahun 2014, juara Eredivisie Belanda, AFC Ajax berkesempatan datang ke Indonesia. Dua uji tanding dilakoni Ajax di Indonesia, menghadapi Persija Jakarta dan Persib Bandung. Laga pertama Ajax di Indonesia dilalui dengan menghadapi Persija. Dalam laga tersebut, Ajax menang dengan skor tiga gol tanpa balas.

Berikutnya, giliran Persib yang dijajal Ajax. Di luar dugaan, Persib mampu memberikan perlawanan sengit kepada Ajax hingga mereka mampu memaksa pertandingan berakhir dengan skor imbang 1-1. Seusai laga, pelatih Ajax Frank de Boer memuji agresivitas para pemain Persib.

De Boer mengaku dirinya tertarik dengan gaya permainan yang ditunjukkan oleh Firman Utina. Menurut De Boer Firman adalah tipikal gelandang dengan visi bermain yang baik. Dia selalu melihat ke depan, dan mampu melihat pergerakan rekannya yang berdiri bebas.