Cerita Roman Chmelo, Merindukan Indonesia dan Nasi Goreng

Roman Chmelo termasuk pemain asing yang sukses berkarier di Liga Indonesia. Pada musim pertamanya, pria kelahiran 9 September 1980 ini langsung membawa Arema Indonesia meraih trofi juara dalam Liga Super Indonesia 2009/2010 serta menjadi runner-up pada musim berikutnya. Roman juga bagian penting Arema saat berstatus runner-up Piala Indonesia 2010.

Bermain untuk Arema, Roman Chmelo bukan hanya penyuplai bola buat striker utama, Noh Alam Sah (Singapura), tapi juga pencetak gol buat klub kebanggaan Aremania itu.

Selama berkostum Arema pada 2009-2012, Roman tercatat tampil 145 kali dalam laga resmi dengan 75 gol. Pencapaian yang terbilang lumayan buat seorang pemain yang berposisi sebagai gelandang serang.

Sejatinya, kemampuan Roman sebagai gelandang ulung sudah terlihat ketika ia membela klub Malaysia, PNKS Selangor pada 2003-2007, di mana pada kurun waktu itu, ia mencetak 68 gol dalam 133 laga. Namun, Roman mengaku kemampuannya tergali optimal bersama Arema. Itu tidak lepas dari militansi Aremania dalam mendukung tim kesayangannya.

“Atmosfer pertandingannya sangat berbeda. Bersama Arema, saya selalu termotivasi tampil bagus untuk memuaskan Aremania yang memenuhi Stadion Kanjuruhan,” kenang Roman dalam channel Youtube Dendi41 Santoso.

Tidak hanya di dalam stadion, Roman mengaku sangat menikmati masa indahnya membela Arema, termasuk kehidupan kesehariannya. Terutama alam dan makanan di Malang.

“Saya tidak bisa melupakan Kota Malang dengan berbagai ragam kulinernya seperti bakso, nasi goreng, mie goreng, dan ikan. Saya rindu semuanya. Apalagi di Slowakia saya tidak pernah menemukan makanan seperti itu,” ujar Roman Chmelo yang meninggalkan Indonesia pada 2014.

Penampilan Roman Chmelo di lapangan hijau terbilang ciamik dan agresif saat timnya menekan lawan. Itu tak lepas dari nalurinya sebagai gelandang serang atau menjadi second striker bersama tim yang dibelanya. Ia pun identik dengan jersey bernomor punggung sembilan.

“Sampai sekarang saya masih memakai jersey nomor sembilan,” ungkap Roman yang kini masih bermain di klub amatir negaranya.

Pada kesempatan itu, Roman juga mengungkap situasi sulit akibat dampak pandemi COVID-19. Menurutnya, di Liga Slowakia, hanya level tertinggi yang masih menggelar pertandingan. Sementara divisi dua sampai enam harus menghentikan kompetisi. “Semoga Liga Indonesia bisa kembali digelar,” ujarnya.

Roman tanpa sungkan mengungkapkan keinginannya untuk kembali ke Indonesia meski tak lagi berstatus sebagai pemain. “Saya mencintai Malang dan Indonesia. Suatu saat saya ingin ke Indonesia,” pungkas Roman.