Persik Sebut Kekosongan Liga 1 Jadi Preseden Buruk Industri Sepak Bola

Persik Kediri menilai segala ketidakpastian perihal kelanjutan kompetisi Liga 1 menjadi preseden buruk bagi sepak bola Indonesia yang mulai memasuki era industri.

Saat ini, seluruh klub saling bersaing untuk mendapatkan predikat profesional. Salah satu aspeknya yaitu dengan menata finansial yang bagus, baik secara pemasukan maupun pengeluarannya.

Namun apa yang terjadi saat ini, dinilai di luar batas kewajaran. Bagaimana klub terus menjalani kewajiban, sedangkan kompetisi belum bisa dipastikan bergulir atau tidak.

“Sebuah bisnis sepak bola tak bisa berjalan tanpa kepastian soal kelanjutan kompetisi,” kata Presiden Persik Kediri, Abdul Hakim Bafagih, dalam rilisnya, Kamis (7/1/21).

Berbeda dengan era semiprofesional, saat klub masih digelontor uang rakyat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Tanpa kompetisi pun, eksistensi klub dapat terjaga meski tetap menjalankan kewajibannya.

“Kami dulu masih menggunakan APBD dan sekarang, sudah memasuki era industri sepak bola. Seharusnya kita semua banyak belajar,” tandas Abdul Hakim Bafagih.

Sehingga, Persik sangat berharap ketegasan dari PSSI perihal status kompetisi. Apakah Liga 1 2020 bisa berlanjut pada Februari 2021, atau menggantikannya dengan musim yang baru.