Demi Kejar Prestasi, Legenda Persik Ini Rela Dicap Pengkhianat Oleh Aremania

Gelandang legendaris Persik Kediri, Harianto mengaku rela dicap sebagai pengkhianat oleh Aremania, ketika memutuskan hengkang dari Arema pada penghujung tahun 2002 silam.

Pada waktu itu, publik sepak bola Malang Raya memang dikejutkan oleh aksi bedol desa yang dilakukan sejumlah pilar pentingnya. Tujuannya sama-sama ke Persik Kediri, pendatang baru Divisi Utama setelah menjuarai kompetisi Divisi Satu.

Iwan Budianto selaku manajer, kemudian memboyong sejumlah pilar penting tim Singo Edan. Harianto menjadi salah satunya, selain Johan Prasetyo, Wawan Widiantoro, Siswanto hingga Khusnul Yuli Kurniawan.

“Warga Malang dan Aremania, pasti kecewa saat kita boyongan ke sana. Hal itu wajar, manusiawi sekali, apalagi mereka sebagai suporter,” ucap Harianto kala berbincang dengan INDOSPORT, Sabtu (14/11/20) lalu.

“Kecewa karena mungkin harapannya kepada kita terlalu tinggi, tapi kita pindah (ke tim lain),” sambung dia.

Namun, Harianto melakukannya setelah melewati pertimbangan yang matang. Yaitu atas dasar peningkatan karirnya sebagai pesepakbola profesional.

“Waktu itu, kami berpikirnya profesional. Ada peluang yang lebih baik dari segi materi maupun prestasi, ya itu hal yang wajar,” tandas dia.

Hebatnya, Harianto dan rekan setimnya di Arema lalu mengubah peta kekuatan sepak bola di Jawa Timur. Persik Kediri dibawanya meraih trofi juara Liga Indonesia tahun 2003, sekaligus mengantarkan tim Macan Putih berlaga di Liga Champions Asia pada 2004.