Peri Sandria Mengenang Prestasi Terbaik Bersama Bandung Raya

Bagi pecinta sepak bola pada era 1990-an pasti terkesima dengan sosok Peri Sandria. Pemain lokal asal Sumatra Utara itu memiliki karier yang melesat baik di level klub maupun Timnas Indonesia.

Sederet prestasi gemilang berhasil ditorehkannya, seperti menyabet medali emas SEA Games 1991 di Manila bersama Timnas Indonesia.

Ia juga menjadi pencetak gol terbanyak bersama Bandung Raya pada kompetisi Liga Indonesia pertama pada 1994. Kemudian ia sukses membawa klubnya itu menjadi juara satu musim kemudian.

Peri Sandria memang cukup fenomenal pada era tersebut. Lahir di Binjai, Sumatra Utara pada 24 September 1969, Peri Sandria adalah pesepak bola dengan penuh talenta sejak masih kecil. Ada cerita menarik tentang masa lalunya berkecimpung di dunia sepak bola.

Mulai dari awal kariernya sejak masih junior, berbagai pencapaian luar biasa, hingga kenangan demi kenangan yang sulit dilupakannya saat masih aktif bermain. Peri Sandria mengenang memori tersebut dalam kanal Youtube Fendi Kurniawan.

“Awalnya saya menyukai sepak bola pada usia 10 tahun, ketika masih berada di kampung halaman. Masih nyeker, belum punya sepatu. Kemudian dari kecil ada niat ingin menjadi atlet dan itu kunci utama yang selalu saya pegang,” ujar Peri Sandria.

“Beranjak remaja, pertama ikut PSKAB Binjai, setelah ajang Piala Soeratin masuk Diklat Medan. Kemudian ikut tim Piala Pelajar Asia, dari situ merintis karier ke level nasional,” lanjutnya.

Rangkaian Musim yang Indah
Setelah sukses bersama Timnas Indonesia di SEA Games 1991 Manila, maupun di klub sebelumnya, yaitu Krama Yudha Tiga Berlian, Peri Sandria pun hijrah ke Bandung Raya. Klub inilah yang membantu Peri Sandria naik daun.

Pada Liga Indonesia edisi pertama pada 1994/1995, Bandung Raya melajut ke babak delapan besar. Kendati demikian, ia menjadi topscorer dengan 34 gol, yang rekornya baru terpecahkan pada 2007.

Namun, pada Ligina 1995/1996, Bandung Raya diantarnya menjadi juara dengan mengalahkan PSM Makassar. Duetnya di lini depan, Dejan Glusevic menjadi pencetak gol terbanyak.

Bandung Raya kembali tampil di final pada musim berikutnya, meski harus mengakui keunggulan Persebaya Surabaya di laga puncak. Hingga pada beberapa musim berikutnya, Bandung Raya kemudian membubarkan diri.

“Saya begitu mengenang momen juara bersama andung Raya dan pernah menjadi top scorer, karena ketika di Bandung hanya Persib yang lebih memiliki nama besar,” kisahnya.

“Tahun ketika juara itu menjadi momen yang sangat membahagiakan dan penuh suka cita. Begitu padatnya jadwal pertandingan yang dihadapi Bandung Raya, kami bermain di Piala Winners Asia, tidak pernah berhenti di jalan. Lelah sekali, tapi saat bisa menjadi juara, semua rasa lelah itu hilang,” ujar Peri Sandria.