Arema FC Keberatan dengan Keputusan PT LIB Memangkas Hak Komersial

Manajemen Arema FC keberatan dengan keputusan operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) yang memangkas hak komersial hingga 75 persen, dan baru dibayarkan pada Februari tahun depan.

PT LIB sebelumnya telah menyatakan, kontestan Liga 1 akan mendapatkan 25 persen dari nilai hak komersial Rp800 juta yang seharusnya diterima setiap bulan. Pemangkasan 75 persen ini berlaku untuk Oktober 2020 hingga Januari 2021. Klub akan mendapatkan haknya secara penuh ketika Liga 1 2020 dilanjutkan kembali pada Februari 2021.

Media officer Arema Sudarmaji mengutarakan, keputusan PT LIB itu membuat klub mengalami kesulitan. Apalagi sebagian besar klub telah memperpanjang kontrak pemain, pelatih, dan ofisial, karena disebutkan lanjutan Liga 1 2020 akan digulirkan kembali.

Awalnya, PSSI dan PT LIB menyebutkan kompetisi akan digelar pada Oktober, namun mengalami penundaan akibat terbentur perizinan dari kepolisian. Harapan untuk menggulirkan kompetisi pada November pun sirna, karena kepolisian tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Kami mencoba membangun pemahaman terhadap keberlangsungan klub. Arema sudah berkomitmen untuk menjaga kelangsungan hidup klub ini dengan harapan kompetisi bisa digelar. Tentu untuk menjaga keberlangsungannya, klub mengalami defisit anggaran yang sangat berat,” ujar Sudarmaji.

Menurut Sudarmaji, klub makin keteteran dengan penundaan kompetisi hingga awal tahun depan. Karena itu, lanjut Sudarmaji, PT LIB tetap mencairkan subsidi sebesar 25 persen tersebut setiap bulannya.

“Kebutuhan subsidi masih sangat diharapkan bagi klub. Ini untuk menjaga keberlangsungan klub itu sendiri. Sebagai langkah win-win solution, subsidi 25 persen untuk bulan Oktober 2020 sampai Februari 2021 agar tetap direalisasikan kepada klub,” ucap Sudarmaji.

Manajemen Arema juga berharap PSSI mengeluarkan keputusan mengenai besaran gaji kepada pemain, pelatih, dan ofisial seperti ketika penundaan pertama pada pertengahan Maret lalu.

“Harapan kami federasi segera mengeluarkan surat terkait relaksasi bagaimana klub menghadapi dan menjelaskan kepada semua pemain terkait kewajiban kepada mereka. Itu untuk memproteksi semua agar di kemudian hari tidak ada sengketa, gugatan, ataupun hal-hal yang tak diinginkan,” beber Sudarmaji.

“Kami sangat berharap ada surat untuk memproteksi ini, dan federasi butuh intervensi agar semua berjalan dengan baik.”