Persiraja: Habis Kami, Bangkrut Tak Tahu Bagaimana Mau Bayar Gaji

Persiraja Banda Aceh dibuat pusing dengan kewajiban membayar gaji pemain serta ofisial untuk bulan depan di tengah kompetisi Liga 1 yang belum ada kepastian.

Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Umum Persiraja Banda Aceh, Rahmat Djailani, Senin (26/10/2020).

Persiraja Banda Aceh bahkan sudah mengeluarkan dana sebesar Rp 2 miliar selama berada di Yogyakarta.

Pengeluaran tersebut sudah termasuk dengan gaji pemain dan ofisial.

Terhitung sejak 27 September 2020, skuat Persiraja Banda Aceh berada di Yogyakarta selama kurang lebih satu bulan.

Rahmat Djailani mengatakan, untuk bulan depan saja, Persiraja Banda Aceh belum tahu membayar gaji pemain serta ofisial dengan uang dari mana.

Klub juga pastinya dibingungkan harus berpedoman dengan Surat Keputusan (SK) yang mana dengan situasi saat ini.

Dalam SK bernomor 48/SKEP/lII/ 2020, klub dizinkan membayar gaji pemain dan ofisial dengan besaran 25 persen dari kesepakatan awal.

Sedangkan SK PSSI bernomor SKEP/53/VI/2020, klub berkewajiban membayar gaji pemain serta ofisial sebesar 50 persen.

“Ya kami (Persiraja Banda Aceh) juga bingung mau gimana, kalau kami merujuk SK PSSI, ya kembali ke 25 persen itu, karena kan itu kalau tidak ada kompetisi,” kata Rahmat Djailani.

“Bayar 25 persen juga kami bingung ambil duitnya dari mana, gak ada pemasukan sama sekali,” ujar Rahmat Djailani dilansir BolaSport.com.

Rahmat Djailani melanjutkan, kondisi keuangan tim pun sangat kusut dengan di situasi seperti ini.

Saat ini, Persiraja Banda Aceh telah meliburkan tim karena belum jelasnya kompetisi.

Pemain dan ofisial akan kembali dikumpulkan apabila kepastian kompetisi sudah ada titik terang yang jelas.

“Kalau yang untuk bulan depan (November) ya kami tidak tahu mau bayar gaji gimana, abis kami, bangkrut,” tegas Rahmat Djailani.