Kilas Balik Liga Champions Asia 2004: Persik yang Fenomenal Disusupi Mafia

Pada 2014, Indonesia mengirim dua wakil untuk tampil dalam kompetisi terelite Benua Asia, Liga Champions Asia, yakni PSM+Makassar’>PSM Makassar dan Persik Kediri.

PSM dan Persik mewakili Indonesia dalam ajang kontinental prestisius ini seusai meriah hasil memuaskan dalam kompetisi domestik, Liga Indonesia 2003.

Macan Putih, julukan Persik, menjadi juara kompetisi, sedangkan Juku Eja, julukan PSM, sebagai runner-up Liga Indonesia 2003.

Sayangnya, penampilan Persik dan PSM sebagai representasi sepak bola Indonesia di pentas Asia, tampil mengecewakan dan jadi bulan-bulanan lawan.

Keduanya, sama-sama tak mampu bersaing pada fase penyisihan grup. Persik menghuni peringatkat ketiga Grup G dan PSM jadi juru kunci Grup F.

Bagaimanakah kisah perjuangan dua wakil Indonesia tersebut dalam Liga Champions Asia 2004? Berikut ini rangkuman kisah yang dirangkum Skor.id.

Persik Kediri

Saat tampil dalam Liga Champions Asia 2004, Persik ditagani Jaya Hartono. Persik tergabung di Grup G bersama Seongnam IIhwa Chunma, Yokohama F Marinos, dan Binh Dinh.

Walau berstatus jawara Liga Indonesia 2003, tim dengan warna kostum ungu ini tak mampu mengaum layaknya macam. Persik hanya tampil layaknya kucing garong.

Dari enam pertandingan yang dilakoni, Persik hanya meraih empat poin, hasil satu kemenangan dan satu hasil imbang atas wakil Vietnam, Binh Dinh.

Dalam laga pembuka babak grup, menjamu tim asal Korea Selatan, Seongnam Ilhwa Chunma, di kandang, Persik takluk dengan skor 1-2, pada 11 Februari 2004.

Berikutnya pada 24 Februari 2004, tandang ke Jepang, menghadapi Yokohama F Marinos. Tak tanggung-tanggung, Persik dilibas dengan skor 0-4.

Setelah itu manahan Binh Dinh dengan skor 2-2 di Vietnam, dan lantas meraih kemenangan perdana saat menjamu Binh Dinh dengan skor 1-0.

Rupanya, kemenangan dan imbang lawan Binh Dinh jadi yang terakhir. Pasalnya, Hamka Hamzah dan kawan-kawan menelan dua kekalahan beruntun.

Saat tandang ke Korea Selatan, ke markas Seongnam, tim fenomenal Indonesia karena jadi juara liga pada musim pertamanya promosi, dilibas dengan skor 0-15.

Kekalahan itu dirasa sangat janggal. Bahkan, ada yang menyebut ada permainan bandar. Dalam hal ini Persik diyakini disusupi mafia sepak bola untuk mengatur skor.

Pasalnya, klub yang diperkuat pelatih timnas Indonesia, Shin Tae-yong, ini mengejar target untuk lolos fase grup. Mereka sangat butuh banyak gol untuk lolos grup.

Pada pertai terakhir, Persik takluk 1-4 dari Yokohama. Pencapaian buruk tersebut membuat Persik finis diperingkat ketiga klasemen Grup G, di atas Binh Dinh.

PSM Makassar

PSM Makassar tergabung di Grup F Liga Champions Asia 2004, bersama Dlian Shide (Cina), Hoang Anh Gia Lai (Vietnam), dan Krung Tahi Bank (Thailand).

Pasukan Ramang, julukan PSM, saat itu ditangani Miroslav Janu. Walau diarsiteki pelatih asing, PSM finis sebagai juru kunci atau peringkat keempat grup G.

Sejatinya, jika melihat komposisi pemain PSM kala itu, sangat diyakini tim asal Mattoanging ini bisa bersaing dengan klub dari Cina, Vietnam, dan Thailand.

Beberapa pemain PSM saat itu antara lain, Charis Yulianto, Abanda Herman, Ponaryo Astaman, Syamsul Chaeruddin, Ronald Fagundez, dan Cristian Gonzalez.

Namun, PSM tak mampu bersaing. Pada tiga laga awal langsung menelan kekalahan. PSM kalah dari Hoang Anh Gia Lai (1-5), Krung Thai (2-3), dan Dalain Shin (0-1).

Seperti tim Indonesia lainnya yang jago kandang, PSM hanya meraih kemenangan saat laga tandang, saat menjamu Hoang Anh Gia Lai (3-0) dan Krung Thai (2-1).

Adapun laga terakhir PSM dalam Liga Champions Asia 2004 berakhir dengan catatan rapor merah. PSM Makassar Kalah dari Dalian Shide dengan skor 1-2.