PSS Sleman Usul Liga 1 Digelar Usai Piala Dunia U-20

Direktur utama PT Putra Sleman Sembada (PSS) Marco Gracia Paulo, mengusulkan Liga 1 kembali dihelat usai Piala Dunia U-20 tahun depan. Hal itu karena ia tak yakin kompetisi bisa dilangsungkan tahun ini.

Nasib lanjutan Liga 1 musim ini masih buram. Kondisi tersebut karena Kepolisian Republik Indonesia, enggan menerbitkan izin keramaian karena belum berakhirnya pandemi virus corona dan bakal diadakannya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada).

Padahal, klub sudah sepakat untuk melanjutkan Liga 1 musim ini 1 November mendatang. Kesepakatan tersebut terjadi setelah digelarnya rapat dengan PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB), beberapa waktu lalu.

Bila izin benar tidak diberikan oleh Kepolisian Republik Indonesia untuk melaksanakan lanjutan Liga 1 pada 1 November 2020, PSSI telah menyiapkan opsi lain. Kompetisi bakal dilangsungkan, Desember atau Januari tahun depan dengan mengubah format menjadi dua wilayah seperti beberapa tahun yang lalu.

“Jadi jika kompetisi diadakan setelah Piala Dunia U-20, dalam arti tanpa halangan dan pengunduran jadwal, maka kita bisa mulai Juni atau Juli. Jadi Januari sampai Maret jadi turnamen pemanasan,” kata Marco.

Marco menilai, klub Liga 1 yang bermarkas di Yogyakarta bakal kesulitan untuk menggelar pertandingan. Kondisi tersebut karena setelah agenda Pilkada, bakal dilangsungkan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades), di Sleman.

Sejumlah klub memang memutuskan berkandang di Yogyakarta serta sekitarnya, pada lanjutan Liga 1 musim ini. Beberapa di antaranya yakni Persija Jakarta, Barito Putera, Persiraja Banda Aceh, dan Bali United.
Artikel dilanjutkan di bawah ini

“Puluhan ribu orang hidupnya tergantung dari sini. Puluhan ribu orang juga tergantung pada keputusan kita. Jadi kita tidak bisa mengambil keputusan yang gegabah,” ucapnya.

Berkaca pada sejarah, Pilkada dan kompetisi tak bisa berjalaan beriringan. Di daerah-daerah yang diadakan Pilkada, pasti sepakbola yang mengalah. Bagi Marco, sebagai warga negara yang baik, itu merupakan salah satu kewajiban dan kontribusi kita dari sepakbola ke negara.

“Tapi saya paham, PSSI dan LIB juga punya pertimbangan lain secara bisnis, sponsorship dan lain-lain. Tapi kita berharap mereka juga pahami kondisi klub kita, seperti di webinar yang disebut bahwa klub sudah berdarah-darah. Memang sudah hancur-hancuran,” ujarnya.