Kilas Balik Liga Champions Asia 2002-2003: Petrokimia Putra dan Persita Memilukan

Klub wakil Indonesia, Petrokimia Putra dan Persita Tangerang, memiliki cerita memilukan pada keikutsertaannya di Liga Champions Asia pada edisi 2002-2003.

Liga Champions Asia memulai format baru pada musim 2002-2003, hasil penggabungan Asian Cup Winners dan Asia Super Cup.

Untuk Indonesia, bisa mengirimkan dua wakil sekaligus untuk Liga Champions Asia 2002-2003, tetapi harus melalui babak play-off.

Tepatnya babak ketiga, dari empat, kualifikasi, atau hanya perlu menang dua laga untuk lolos ke fase grup Liga Champions Asia 2002-2003.

Pemilihan wakil Indonesia pada Liga Champions Asia 2002-2003 ditentukan dari status di klasemen kompetisi Liga Indonesia, juara dan runner-up level Divisi Utama.

Klub tersebut secara berurutan adalah Petrokimia Putra dan Persita Tangerang, yang nahasnya malah membuat catatan memilukan.

Skor.id coba berkilas balik sepak terjang kedua wakil Indonesia tersebut di Liga Champions Asia 2002-2003. Berikut uraiannya:

Petrokimia Putra

Catatan memilukan terjadi sebab Petrokimia Putra yang berstatus juara Divisi Utama Liga Indonesia 2002, malah menjadi bulan-bulanan lawannya.

Ketangguhan yang ditunjukkan tim asuhan Sergi Dubrovin pada kompetisi domestik seolah sirna saat play-off kedua Liga Champions 2002-2003.

Widodo C Putro dan kawan-kawan dipermalukan oleh wakil asal Cina, Shanghai Shenhua. Mereka pun gugur setelah sempat unggul.

Petrokimia Putra semula berhasil tampil meyakinkan pada pertandingan pertama saat tampil di kandang mereka, Stadion Tri Dharma, 9 Oktober 2002.

Kemenangan 3-1 diraih oleh tim berjulukan Kebo Giras itu, yang meningkatkan keyakinan untuk bisa lolos ke fase selanjutnya.

Nahasnya, saat bergantian main di rumah lawan, Petrokimia Putra malah menjadi korban dari amukan Shnghai Shenhua.

Keunggulan 3-1 di leg pertama dijungkirbalikkan, sang jawara Liga Indonesia 2002 keok dengan skor 1-5, dan harus gugur dengan agregat kekalahan 4-6.

Persita Tangerang

Untuk wakil kedua, Persita Tangerang membawa nama Indonesia setelah menjadi kejutan di Divisi Utama, finis pada posisi dua.

Tim yang dilatih Benny Dollo ini melesat tidak terduga, hingga berhasil menyingkirkan tim kuat PSM Makassar pada semifinal Divisi Utama 2002.

Musim 2002 jadi pencapaian terbaik sepanjang sejarah klub hingga kini, berbagai bintang muncul dari skuad saat itu.

Namun nahasnya, magis klub berjulukan Pendekar Cisadane pada kompetisi domestik tak bisa berlanjut di kompetisi Asia.

Kegarangan duet Ilham Jayakesuma dan Zainal Arif seolah menghilang, itupun sama dengan aksi Firman Utina, Carlos de Mello, atau Olinga Atangana.

Berhadapan dengan wakil Thailand, Osotspa FC, Persita tampil ompong, gugur setelah tidak bisa menciptakan satupun gol.

Kekalahan agregat 0-1 dirasakan dan memilukannya. Kekalahan 0-1 malah dirasakan ketika bermain di kandang mereka, Stadion Benteng.

Upaya membalas tidak membuahkan hasil pada pertandingan kedua saat tandang, laga berakhir dengan skor seri 0-0.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.