Liga 3: Suimin Diharja Bertekad Mengembalikan Kejayaan Persikota Sang Bayi Ajaib

Persikota Tangerang bersiap memulai babak baru di kancah persepakbolaan Indonesia. Nama klub berjulukan tim Bayi Ajaib tersebut pernah menjadi kuda hitam di sepak bola nasional pada awal era milenium baru.

Saat itu Persikota yang merupakan tim sekota dengan Persita Tangerang, memiliki skuad hebat di bawah polesan tangan dingin Benny Dollo. Sebut saja Jendry Pitoy, Salim Alaydrus, Firmansyah, Rolando Koibur, hingga Aliyudin merupakan para pilar Persikota.

Sayangnya Persikota tertidur cukup lama setelah itu. Begitu lama tenggelam dan sempat vakum di kompetisi, namun kini memiliki secercah harapan. Persikota seperti terlahir kembali dengan siap bersaing dari kompetisi kasta Liga 3.

Adalah berkat sosok pelatih senior, Suimin Diharja yang kini menjadi juru taktik si Bayi Ajaib. Pria asal Medan yang cukup malang melintang sebagai pelatih ini, akhirnya membesut Persikota.

Suimin didapuk menjadi pelatih Persikota menggantikan Powan Ngadi yang sebelumnya menjabat sebagai pelatih. Terbentuk Persikota saat ini tak lepas dari proses merger dari tim sepak bola Pusat Pendidikan dan Latihan Mahasiswa (PPLM) bentukan Kemenpora.

“Musim lalu ada beberapa tim yang menawarkan diri untuk merger seperti Persikad Depok dan Persipro Probolinggo, tapi targernya hanya sekadar mau ikut,” cerita Suimin Diharja dalam kanal YouTube Benteng Mania bulan September kemarin.

“Akhirnya setelah ada tawaran Persikota, ketemu manajemen yang banyak diisi anak muda dan punya ambisi. Ambisinya saya lihat bukan asal ngomong, tapi ada target dan tujuan yang sama. Saya pun memilih ke Persikota,” ungkap eks pelatih PSMS dan Persikabo.

Faktor lain yang membuat dirinya antusias membesut Persikota adalah kesamaan kondisi di Tangerang dengan kampung halamannya, Medan, Sumatera Utara.

Tidak hanya kondisi geografis maupun cuaca dua daerah tersebut yang tidak jauh berbeda. Atmosfer publik dan kecintaan terhadap sepak bola antara Tangerang dan Medan juga diakuinya mirip.

“Medan dan Tangerang tidak jauh berbeda, panas, dan kota pesisir, jadi karakternya keras juga sama seperti Medan. Adaptasinya tidak ada masalah,” tutur pelatih berusia 61 tahun.

“Sejak saya melatih, saya tahu atmosfer Tangerang dan suporternya tidak perlu diragukan. Kota lintasan ke Jakarta, maupun ke Bandung, strategis,” jelasnya.