Mengenal Shin Jae-won, Anak Shin Tae-yong yang Juga Seorang Pesepak Bola

Pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong, diketahui memiliki seorang putra yang juga mengikuti jejak sang ayah dalam terjun ke dunia sepak bola. Namanya adalah Shin Jae-won.

Menurut catatan Transfermarkt, Shin Jae-won merupakan pemain sepak bola profesional yang berposisi sebagai winger dan lahir pada 16 September 1998 silam di Korea Selatan.

Pemain berusia 22 tahun ini mengawali karier sepak bola junior ketika tergabung dalam klub Haksung High School (2015-16) dan berlanjut ke Korea University (2017-18).

Bersama klub yang disebutkan terakhir, Shin Jae-won tampil sebanyak empat kali dan mencetak satu gol. Pada 2014, gelandang dengan tinggi 184 cm itu sempat membela Timnas Korea Selatan U-17 dan tampil sebanyak empat kali saja.

Kemudian di awal tahun 2019, Shin Jae-won resmi digaet klub K-League 1, FC Seoul, dengan durasi kontrak hingga Desember 2020 mendatang. Namun, karena minim mendapatkan menit bermain dan hanya tampil di dua pertandingan, ia akhirnya dipinjamkan ke klub K-League 2, Ansan Greener.

Shin Jae-won tercatat telah mengemas satu assist dalam 12 laga di semua ajang bersama Ansan Greener. Timnya tersebut bertengger di posisi sepuluh –juru kunci– usai mengoleksi 17 poin dari 19 pertandingan.

Dalam sebuah wawancara, Shin Jae-won mengaku bahwa tidak mudah bagi dirinya untuk lepas dari reputasi sang ayah yang sangat mengkilap saat masih aktif menjadi pemain dan sekarang pelatih.

Shin Tae-yong sendiri pernah memperkuat Seongnam FC dan berposisi sebagai gelandang serang.

“Sejujurnya, sebelum saya berkarir di profesional tidak ada tekanan sama sekali. Tapi ketika sudah menginjakkan kaki di profesional, saya mulai merasakan sedikit tekanan,” tuturnya, dikutip dari laman media asal Korea Selatan, Sports-G.

“Jujur saja, Anda dituntut harus selalu bermain bagus, karena orang akan membandingkan dengan ayah Anda. Tapi itu menjadi pelecut buat saya.”

Kendati demikian, Shin Jae-won merasa diuntungkan memiliki ayah seperti Shin Tae-yong. Setidaknya, ia lebih banyak menerima masukan ketimbang omelan karena pengetahuan sang ayah soal sepak bola.

“Jika ayah bukan pesepakbola atau pelatih, mungkin saya akan sering mendapat omelan. Dia lebih sering memberikan masukan tentang kekurangan saya. Jika saya bermain bagus, dia akan bilang ‘kerja yang bagus’,” sambungnya.

“Dia sering memberikan penjelasan dengan menggambarkan skema permainan di sebuah papan. Ayah selalu punya pemikiran yang bagus. Jika saya tidak bermain bagus, saya akan selalu berpikir ‘semua bergantung kepada diri sendiri’.”

Lebih lanjut, Shin Jae-won juga bercerita soal pengalamannya ketika sang ayah menangani timnas U-20 Korea Selatan untuk Piala Dunia U-20 tahun 2017.

Saat itu, Shin Tae-yong meminta maaf pada sang anak lantaran harus menyuruhnya berkorban untuk tidak masuk ke dalam timnya.

“Di hari ketika ayah ditunjuk menjadi pelatih timnas U-20, dia makan malam bersama keluarga. Di satu kesempatan, ayah bilang kepada saya, ‘Jae-won, orang tua akan selalu siap berkorban [untuk anak], tapi kali ini kamu yang harus berkorban. Maaf, saya tidak akan memasukkan kamu ke dalam tim.”

“Mungkin jika saya masuk ke dalam tim U-20, akan banyak orang yang mencaci maki. Ayah menyadari, jika dia memasukkan saya ke dalam tim, bukan hanya saya yang tersakiti, tapi dia juga. Tentu saja saya punya keinginan main di Piala Dunia, tapi ketika ayah ditunjuk sebagai pelatih, harapan itu sirna,” ungkapnya.

Keputusan-keputusan seperti itu memang cukup sulit. Akan tetapi, pada akhirnya, dengan segala suka duka yang dialaminya, Shin Jae-won dengan Shin Tae-yong merupakan anak dan Ayah yang selalu saling memberikan dukungan dalam karier satu sama lain. Termasuk ketika sang ayah berhasil meraih kemenangan perdana bersama Timnas U-19 tadi malam.