Kisah Jacksen Tiago: Buta Tentang Indonesia dan Disangka Petinju oleh Manajer Petrokimia Putra

Selama menetap di Indonesia, Jacksen Tiago sudah mendapatkan segalanya. Ia meraih berbagai trofi juara, baik sebagai pemain maupun pelatih. Prestasi itu membuatnya pernah didaulat menjadi pelatih Timnas Indonesia saat menjalani kualifikasi Piala Asia 2015. Jacksen juga menyandang status warga kehormatan Surabaya, kota yang kini jadi tempatnya menetap bersama keluarga kecilnya.

Kepada channel youtube Omah Balbalan, Jacksen Tiago mengungkapkan sejatinya tak sekalipun dalam benaknya keinginan berkarier dan menetap di Indonesia.

“Ketika di Brasil, saya tak pernah mendengar apa pun tentang Indonesia. Termasuk Bali yang termasuk surga wisata dunia,” kata Jacksen.

Malah, negara yang menjadi tujuan utamanya untuk mengembangkan karier sepak bola adalah Malaysia. Menurut Jacksen, agen yang menaungi mereka memang menyebut negara tetangga itu ketika hendak menuju Asia.

“Jadi, sepanjang perjalanan yang ada dalam benak saya adalah Malaysia. Bukan Indonesia. Tapi, semuanya berubah ketika kami tiba di Singapura,” terang Jacksen.

Ketika berada di bandara Singapura, Jacksen bersama enam pemain lain bertemu Anghel Ionita, agen asal Rumania yang jadi penghubung. Betapa terkejutnya Jacksen dan kawan-kawan ketika Anghel akan melanjutkan ke Indonesia.

“Karena bagasi sudah terlanjur di pesawat menuju ke Jakarta, kami pun terpaksa setuju.”

Sesampai di Jakarta, Jacksen sempat berunding dengan rekan-rekannya. “Dari antara mereka, saya hanya mengenal Da Costa, Carlos de Mello, Fransisco dan Gomes de Oliviera. Dua nama lainnya saya lupa, karena kami memang baru ketemu ketika di pesawat,” ungkap Jacksen.

Jacksen menambahkan sejatinya sempat terbersit keinginan untuk pulang ke Brasil. Tapi, ia kemudian membulatkan tekad mencoba berkarier di Indonesia. Apalagi, saat itu, mereka tiba tepat di malam Natal 2003 dan tiket pulang ke Brasil tertanggal 7 Januari 2014.

“Waktu saya pikir, saya telah melewatkan kesempatan merayakan Natal dan Tahun Baru bersama keluarga di Brasil. Mungkin ada hikmah dibalik semua ini,” kisah Jacksen Tiago.

Disangka Seorang Petinju

Esok harinya, Anghel Ionita mempertemukan Jacksen dan kawan-kawan dengan sejumlah pengurus klub Indonesia yang berminat memakai jasa pemain asing.

“Saya dan Carlos akhirnya dipilih oleh Petromikimia Putra. Yang lainnya ada yang bergabung di Pelita Jaya, Mitra Kukar, dan PKT Bontang,” tutur Jacksen Tiago.

Jacksen mengungkap cerita lucu kala ia dan Carlos bertemu Petrokimia Putra yang diwakili oleh Imam Supardi, sang manajer tim. Jacksen yang bertubuh kekar dan berotot disangka petinju oleh Imam.

“Carlos malah dikira bencong karena penampilannya yang santai. Kami pun ke Gresik dan akhirnya justru mencetak prestasi lebih baik dengan membawa Petrokimia menembus final Liga Indonesia 1994-1995,” papar Jacksen yang pernah setahun menjadi tentara angkatan laut di Brasil ini.

Keputusan Jacksen dan Carlos berkarier di Indonesia terbukti benar. Setelah gagal membawa Petrokimia juara, duet ini akhirnya meraih trofi saat membela Persebaya pada Liga Indonesia 1996-1997.

Jacksen malah menjadi pencetak gol terbanyak musim itu. Setelah itu, Carlos tercatat membawa PSM Makassar meraih trofi juara Liga Indonesia 1990-2000. Sementara Jacksen bersinar sebagai pelatih dengan gelar juara bersama Persebaya dan Persipura.

Pencapaian juara bersama dua tim ini mendatangkan kenangan tersendiri buat Jacksen. Meski begitu, ia juga tak bisa melupakan Petrokimia dan PSM Makassar.

“Semua klub yang pernah saya bela baik sebagai pemain dan pelatih sangat berkesan buat saya dan keluarga,” pungkas Jacksen.