Simon McMenemy Ingin Menulis Buku Tentang Kerasnya Sepak Bola di Asia Tenggara

Mantan pelatih timnas Indonesia, Simon McMenemy, berencana untuk membuat buku tentang kisahnya menjadi pelatih di Asia Tenggara.

Simon McMenemy bisa disebut sebagai pelatih asal Eropa yang belum pernah melatih di Benua Biru.

Sepanjang kariernya sejak satu dekade silam, Simon lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai pelatih di kawasan Asia Tenggara.

Pelatih asal Skotlandia itu pernah menjadi pelatih timnas Filipina, pelatih di Liga Vietnam, pelatih di Liga Indonesia, hingga yang terakhir menjadi pelatih timnas Indonesia.

Satu-satunya klub Eropa yang pernah dilatih oleh Simon adalah Worthing, klub yang bermain di liga amatir di Inggris.

Selama 10 tahun berada di ASEAN, Simon banyak menemukan pengalaman unik yang tak diduga.

Pengalaman unik tersebut sangat dekat pada kekerasan yang kerap dilakukan oleh suporter, yang menurut Simon tidak terdapat di negara lain.

Pengalaman kekerasan dalam sepak bola di Asia Tenggara membuat Simon berkeinginan untuk suatu saat membuat buku tentang kisahnya sebagai seorang pelatih.

Eks nahkoda Bhayangkara FC itu ingin membagikan pada dunia tentang kenyataan yang dialaminya saat berkarier di ASEAN.

“Terkadang kamu tidak naik bus (menuju stadion), tapi naik kendaraan bersenjata,” ucapnya dilansir Bolasport.com dari The Press and Journal.

“Di sana biasa ada bus yang rusak atau pemain yang terluka karena dilempar batu. Suporter akan menunggu di luar stadion dan langsung melempari bus tim,” tambahnya.

“Pada satu pertandingan yang saya jalani, ada suporter yang meninggal setelah pertandingan.”

“Saya pikir hal-hal seperti itu tidak mungkin terjadi di sepak bola Skotlandia,” katanya lagi.

Pengalaman lain yang tak terlupakan oleh Simon adalah saat dirinya harus naik tank hanya untuk masuk ke stadion.

Pengalaman itu menjadi bukti bahwa dalam masa kelamnya, suporter menjadi momok terbesar bagi sebuah tim sepak bola di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Akan tetapi di sisi lain, suporter juga menjadi penyemangat utama yang tak pernah berhenti memberikan dukungan pada tim kesayangannya.

Kisah-kisah menarik itulah yang ingin Simon ceritakan dalam sebuah buku di masa depan.

“Kami masuk ke dalam tank yang dikelilingi oleh aparat bersenjata. Kamu langsung masuk ke stadion tanpa melewati ruang ganti.”

“Begitulah di sana. Sangat gila dan tak masuk akal, tetapi semangat yang dirasakan dari fan sangat luar biasa,” tutur Simon.

“Sayangnya ketika (tim tampil) buruk, mereka bisa berbahaya dan melakukan kekerasan,” pungkasnya.