Fakhri Husaini: Kegagalan Dalam Proses Seleksi Saat ini Bukan Menjadi Akhir Dari Segalanya

Mantan pelatih Timnas U-19 Indonesia, Fakhri Husaini turut memberikan pendapat terkait keputusan pencoretan 11 pemain seleksi oleh manajer pelatih Shin Tae-yong.

Sebelum adanya pencoretan, sebanyak 46 pemain seleksi dipanggil mengikuti pemusatan latihan atau training camp (TC) Timnas U-19 Indonesia di Jakarta.

Pada saat latihan sudah berlangsung empat hari di lapangan, tim pelatih Timnas U-19 akhirnya membuat keputusan mencoret 11 pemain seleksi.

Pencoretan yang dilakukan membuat pemain seleksi yang tersisa saat ini berjumlah 35 pemain.

11 pemain yang dicoret itu adalah Muhammad Rifaldo Lestaluhu, Muhammad Darmawan, Arya Putra Gerryan, Figo Sapta Fahrezi, Miftahul Husyen, Mahmud Cahyono, Alif Jaelani, Deka Muhammad Toha, Sutan Zico, Hamsa Mendari Lestaluhu, dan Kartika Vedhayanto Putra.

Tiga nama terakhir yakni Sutan Zico, Hamsa Lestaluhu, dan Kartika Vedhayanto memang memiliki kedekatan tersendiri dengan Fakhri Husaini.

Sebab, ketiga pemain itu merupakan andalan Fakhri Husaini pada saat masih aktif menjadi pelatih Timnas Indonesia.

Bahkan, untuk Zico dan Hamsa merupakan bagian dari kesuksesan Timnas U-16 Indonesia pada saat berhasil menjuarai Piala AFF U-16 tahun 2018 di Sidoarjo.

Fakhri menilai, keputusan pencoretan pemain dari tim sepak bola merupakan hal yang biasa terjadi.

Terkhusus kepada 11 pemain yang dicoret, pelatih asal Lhokseumawe, Aceh, itu memberikan nasihat agar cepat bangkit dan tidak meratapi kekecewaan karena dicoret dalam proses seleksi Timnas U-19.

“Jadi, untuk Zico dan kawan-kawan, apa yang kalian alami saat ini adalah hal biasa disepakbola. Kecewa boleh, tapi jangan lama-lama karena waktu terus berjalan,” tulis Fakhri Husaini di akun media sosial pribadinya.

Menurut Fakhri, kegagalan dalam proses seleksi saat ini bukan menjadi akhir dari segalanya.

Perjuangan 11 pemain yang dicoret masih sangat terbuka untuk kembali dipanggil memperkuat Timnas Indonesia kedepannya.

Mantan pemain PKT Bontang itu berpesan kepada 11 pemain yang dicoret bisa segera membenahi segala kekurangan dalam dirinya.

“Ingat, sepakbola hanya untuk anak-anak yang kuat, kuat menerima pujian, kuat menghadapi ujian. Instrospeksi diri, perbaiki setiap kekurangan, kesempatan kembali ke Timnas selalu ada,” ujar Fakhri.

Di sisi lain, pengalaman pencoretan dari Timnas Indonesia juga pernah dirasakan pelatih berusia 55 tahun tersebut.

Dalam beberapa kesempatan, Fakhri Husaini pernah merasakan pengalaman pahit dicoret karena untuk memberikan kesempatan kepada seniornya.

“Dicoret dari tim nasional, dengan status kapten setelah Timnas lolos ke Piala Asia, dicoret dari Timnas hanya untuk mengakomodir yang lebih senior (pada saat pengumuman pencoretan malah manajernya yang menangis),” ucap Fakhri.

Selain itu, hal-hal buruk lain yang tidak mengenakan pernah dirasakan Fakhri Husaini.

Namun, baginya itu semua menjadi motivasi kedepannya untuk berbuat lebih baik bagi Timnas Indonesia.

“Hampir dicoret dari Timnas karena dianggap berasal dari klub kecil, di sanksi PSSI, diganti, dicadangkan, mendapat beberapa jahitan di pelipis, dipuji, dihujat, dikartu kuning, bahkan kartu merah saya sudah pernah mengalaminya,” pungkasnya

Seperti diketahui, pemusatan latihan Timnas U-19 Indonesia yang sedang dijalani dilakukan untuk persiapan sebelum berlaga di Piala Asia U-19 2020.

Kejuaraan bergengsi Piala Asia U-19 2020 akan berlangsung di Uzbekistan pada 14 hingga 31 Oktober 2020.

Skuat Garuda Muda tergabung di grup A bersama tuan rumah Uzbekistan, Kamboja, dan Iran.