Pesepak Bola Indonesia Dukung RUU Cipta Kerja: Buzzer atau Benar-benar Aktivis

Jagad olahraga di Indonesia kembali ramai di media sosial setelah dua tokoh sepak bola tanah air, Ismed Sofyan dan Kim Kurniawan, mengunggah dukungan terkait tagar #indonesiabutuhkerja.

Tagar #indonesiabutuhkerja memang banyak didiskusikan di media sosial sebagai bentuk kampanye mendukung RUU Cipta Kerja atau yang kerap disebut Omnibus Law.

RUU Cipta Kerja menjadi salah satu rumusan undang-undang yang dibahas oleh DPR RI dalam program legislasi nasional (Prolegnas) periode 2020-2024.

Dalam pemberitaan CNN Indonesia, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut rancangan undang-undang ini sudah dibahas lebih dari 75 persen.

“Ini pembahasannya sudah melebihi daripada 75 persen, tentu diharapkan dalam pembahasan akan terus dilanjutkan,” kata Airlangga

Di luar gedung DPR RI, muncul dukungan di media sosial yang menyulut pembicaraan publik. Dukungan ini disuarakan banyak figur publik melalui tagar #indonesiabutuhkerja.

Di antara publik figur tersebut, tokoh dari dunia olahraga juga muncul. Dalam penelusuran skor.id, ada Kim Kurniawan (pesepak bola, Persib Bandung), Ismed Sofyan (mantan pemain Persija Jakarta), dan Valentino Simanjuntak (sportcaster).

Hanya unggahan Kim Kurniawan dan Valentino Simanjuntak yang masih bisa diakses. Sedangkan, unggahan Ismed Sofyan tampak tak bisa diakses, namun sempat di-repost oleh akun fan sepak bola tanah air.

Lihat postingan ini di Instagram

Kunci sukses menjadi sepakbola profesional menurutku adalah kita harus kerja keras dan bermain dengan hati. Karena aku percaya semua yang dilakukan dengan hati akan berbuah manis. Dengan begitu kita bisa mendapatkan pencapaian yang menjadi target kita, sehingga bisa membuat bangga diri sendiri, keluarga, orang-orang yang kita cintai, bahkan lebih luas lagi bisa membanggakan Indonesia. • Tapi menurutku semua orang dengan apapun latar belakang profesinya bisa turut serta membanggakan Indonesia. Contohnya yang paling sederhana adalah kita bisa mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah dalam membangun Indonesia. Seperti yang aku denger, yaitu sekarang lagi disusun RUU Cipta Kerja oleh pemerintah, yang bertujuan untuk memperluas lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia. • Kita ketahui bersama bahwa dimasa pandemi ini, kondisi ekonomi kita semua dalam keadaan yang menurun. Ada yang usahanya gulung tikar, bahkan ada yang kehilangan pekerjaannya. Dan aku rasa kebijakan Cipta Kerja yang sedang disusun adalah salah satu solusi yang diberikan oleh pemerintah dalam mengatasi kondisi ini. • Oleh karena itu, aku mengajak kamu semua untuk turut mendukung kebijakan ini agar semua bisa mendapatkan pekerjaan kembali dan semua kembali menjadi baik. • #IndonesiaButuhKerja
Sebuah kiriman dibagikan oleh Kim Jeffrey Kurniawan (@kimkurniawan) pada 8 Jun 2020 jam 3:24 PDT

Lihat postingan ini di Instagram

Guys, saking udah lamanya di rumah aja, gue bikin foto ini. Gue kangen siaran lagi di studio, kangen live comentarry lagi di stadion, kangen teriak jebreeet lagi, pokoknya kangen aktivitas normal lagi. Loe semua pada kangen ga?. . Gua pun paham mungkin ada temen-temen yang kehilangan pekerjaan dan juga usahanya gulung tikar karena pandemi ini. . Dan sekarang kan pemerintah lagi bikin kampanye tentang New Normal tuh. Solusinya menurut gue adalah yuk semua ikutan anjuran pemerintah dengan mengikuti semua protokolnya biar pemerintah dan DPR bisa fokus ngegodok RUU Cipta Kerja, dengan tujuan setelah pandemi ini semua orang yang punya usaha bisa jalan lagi dan yang kehilangan pekerjaan bisa bekerja kembali, karena #IndonesiaButuhKerja . . Gimana menurut kalian pendapat gw tadi? Buat 5 komen yg gw pilih ada 5 jersey timnas INDONESIA terbaru buat loe. . Format jawaban: (nama) (kota) (pendapat loe) #IndonesiaButuhKerja #JebreeetGiveaway dan jgn lupa LIKE postingan ini ya. . #jebreeet
Sebuah kiriman dibagikan oleh Valentino Jebreeet Simanjuntak (@radotvalent) pada 3 Jun 2020 jam 5:32 PDT

Lihat postingan ini di Instagram

Repost @ismedsofyan14 (@get_repost) ・・・ Saya masih inget banget rasa bangga ketika terpilih menjadi salah satu pemain yang mendapat kesempatan memakai jersey ini dan membela lambang garuda di dada. Saya merasa setiap pertandingan yang membela nama negara selalu ada rasa yang berbeda jika dibandingkan ketika mambawa nama klub. Mungkin itu tercipta karna bentuk nasionalisme yang membakar semangat ketika menggunakan jersey ini. Tapi tidak perlu menjadi pemain timnas dulu hanya untuk menunjukkan bentuk nasionalisme kamu ke negeri ini. Karena siapapun kamu, apapun profesimu, dan bagaimanapun keadaan kamu, kamu tetap bisa nunjukkin bentuk nasionalisme kamu ke negeri ini. Contoh salah satu hal simpel yang bisa kamu lakuin adalah dengan cara memberi dukungan penuh kepada kebijakan negara yang membawa manfaat banyak bagi rakyat Indonesia. Seperti RUU Cipta Kerja yang sedang digodok oleh para wakil rakyat yang bertujuan untuk menciptakan banyak lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia. Mari sama-sama kita bergandengan tangan untuk mendukung hal ini, untuk kesejahteraan rakyat Indonesia yang lebih baik. #IndonesiaButuhKerja #persijajakarta #thejakmania #thejakonline #persijaselamanya #persijajuara2018 #macankemayoran #guepersija #thejakangel #persijaDay

Sebuah kiriman dibagikan oleh Timnas Indonesia (@official.timnas) pada 12 Jun 2020 jam 6:12 PDT
Mendukung kontroversi

Tudingan menjadi buzzer mengarah pada ketiga figur publik tersebut sebagai bagian dari kampanye soal Rancangan Undang-undang Cipta Kerja.

Pasalnya, RUU ini sendiri menjadi kontroversi dan memicu perdebatan, bahkan hingga level kalangan akademisi.

Kontroversi dalam rancangan awal RUU setebal 1.028 halaman ini melihat empat hal yang paling banyak disorot, dilansir dari Tirto dan Tempo, yakni:

Mengenai peniadaan AMDAL dan IMB dalam pembangunan usaha – (mengamandemen pasal 23 dan 26 UU nomor 32/2009, serta 26 pasal pada UU nomor 28/2002)


Mengenai terlalu mudahnya mengeluarkan sertifikasi , dengan kemungkinan bisa diproses oleh organisasi masyarakat (ormas) – (mengamandemen pasal 1,27-33, 55-56 pada UU nomor 33/2014).
Mengenai dibukanya banyak pintu usaha terkait dengan investasi asing (mengamandemen pasal 12 UU nomor 25/2007, pasal 11 UU nomor 40/1999, dan Perpres nomor 44/2016)


Mengenai perumusan gaji karyawan, cuti, outsourcing, pesangon, PHK, dan kemungkinan penghapusan cuti berbayar (cuti menikah, cuti keluarga meninggal, istri melahirkan/keguguran) (amandemen pasal 42,66,93,159,161-172 UU nomor 13/2003).


Empat kontroversi ini masuk dalam tuntutan untuk diubah dan sudah disuarakan banyak elemen masyarakat, termasuk akademisi, mahasiswa, serta kelompok buruh pada Hari Buruh, 1 Mei 2020 lalu.

Sehingga, tak sedikit warganet yang menuding ketiga figur publik tersebut disebut “meramaikan” percakapan agar pemerintah dan DPR mendapat dukungan dalam pembahasan undang-undang ini.

Antara aktivisme sosial, buzzer, dan korporat

Apa yang dilakukan para atlet berkaitan dengan tagar #indonesiabutuhkerja bisa menjadi bagian dari aktivisme sosial.

Dalam sejarah olahraga, aktivisme sosial ini banyak ditunjukkan, dan banyak merubah tatanan sosial-politik.

Profesor sosiologi Duke University, Orin Starn, menyebut sikap para atlet ini berkaitan pada dua peran: peran sebagai atlet sekaligus aktivis dan peran sebagai atlet korporat

Banyak catatan mengenai atlet yang terjun dalam aktivisme sosial. Petinju Muhammad Ali pernah menjadi seorang yang lantang menyuarakan isu kemiskinan, rasialisme, dan kecaman terhadap Perang Vietnam.

Salah satu pernyataannya mengenai isu-isu ini saat Ali pada 1967 hangat diperbincangkan media, “mengapa saya harus pergi ke Vietnam (untuk berperang)?, saya tidak bermusuhan dengan mereka. Mereka tidak memanggil saya dengan sebutan rasialis (N-word).”

Begitupun yang dilakukan oleh Skor Indonesia dengan para pemain Persib Bandung dan Persija Jakarta untuk mendukung gerakan di tengah Pandemi Covid-19 pada 27 Maret 2020.

Akan tetapi, pola tagar #indonesiabutuhkerja dinilai tampak sebagai bagian dari buzzing, mengangkat isu RUU Cipta Kerja agar diketahui masyarakat lebih banyak.

Pertaruhan bagi atlet sebagai buzzer cukup besar, terlebih jika berkaitan dengan citranya dalam korporat, atau hubungan dengan korporasi.

Tanggung jawab dengan brand melalui iklan atau brand ambassador kerap memaksa atlet untuk jauh dari kontroversi dan karena berpengaruh terhadap brand image.

Sehingga, banyak atlet, tak hanya di Indonesia, turut menjauh untuk mengkritisi isu-isu sosial atau politik yang panas.

Namun saat ini, hubungan antara atlet dan korporasi ini mulai tampak kabur.

Majunya beberapa figur-figur olahraga dalam kancah politik Indonesia, serta dukungan-dukungan menjadikan mereka dekat dengan isu-isu sosial dan politik. Meski tak sedikit yang berbau kontroversial.

Atau kontroversi itu yang mereka cari?