Krisis Finansial, PSIS Semarang Tak Ingin Muluk-muluk saat Lanjutkan Liga 1 2020

Faktor finansial masih menjadi topik hangat yang dikeluhkan sejumlah klub Liga 1 2020, salah satunya PSIS Semarang.

Manajemen PSIS Semarang mengakui, pihaknya kesulitan mengatur keuangan di tengah pandemi virus corona.

Bahkan, subsidi dari PT LIB sebesar Rp800 juta tidak bisa mengangkat tim berjulukan Mahesa Jenar itu dari kesulitan finansial.

Chief Executive Officer (CEO) PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, menyebut bahwa pihaknya tak memiliki patokan dalam mengatur keuangan.

Sebab, kondisi saat ini berbeda jauh ketika kompetisi musim sebelumnya yang tak terdampak pandemi.

“Pada saat seperti ini, bisa dibilang kami tidak memiliki tolok ukur untuk mengatur keuangan,” kata Yoyok, saat ditemui wartawan, Rabu (5/8/2020).

“Jika berbicara soal subsidi sebesar Rp800 juta, itu hanya bisa untuk membayar seperlima dari gaji bulanan tim kami,” ia menambahkan.

Kendati demikian, Yoyok menegaskan bahwa PSIS Semarang akan tetap berkomitmen untuk melanjutkan kompetisi Liga 1 2020.

Namun, anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI itu tidak akan memasang target muluk-muluk untuk PSIS saat tampil di Liga 1.

CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi, memberi keterangan pers di Stadion Citarum, Semarang pada 27 Januari 2020. Sri Nugroho/Skor.id
Sebelumnya, Yoyok menyebut bahwa nominal subsidi sebesar Rp800 juta masih kurang untuk membantu operasional klub.

Pasalnya, selama berkompetisi nanti, pihak klub tidak akan mendapat pemasukan dari penjualan tiket penonton.

Ia menyebut, idealnya di saat pandemi seperti ini PT LIB memberikan subsidi minial sebesar Rp1 miliar.

“Pemerintah dan PSSI kan berharap Liga 1 tetap berjaln. Jadi kami tetap akan berjuang maksimal memberi tontonan kepada masyarakat,” ujarnya.

“Kami juga akan memaksimalkan apa yang ada. Tidak akan muluk-muluk karena situasinya cukup sulit,” ia menambahkan.