PT LIB Ogah Naikkan Subsidi, PSS Sleman Memilih Cermat

Liga 1 2020 akan kembali dilanjutkan 1 Oktober mendatang, hal itu sesuai dengan keputusan PT Liga Indonesia Baru (LIB), yang mengikuti perintah PSSI supaya kompetisi kembali dilaksanakan Oktober mendatang.

Banyak penyesuaian selama Liga 1 digelar di tengah pandemi, seperti laga yang terpusat di Pulau Jawa, hingga perubahan angka subsidi. Untuk poin nomor dua, klub sebenarnya meminta kenaikkan hingga Rp 1 miliar lebih.

Sayangnya, LIB memastikan bahwa mereka tidak bisa mengabulkan permintaan tersebut. Jumlah subsidi minimal Rp 1 miliar per bulan adalah hal yang berat, dan LIB tetap berpegang pada tawaran RP 800 juta setiap bulan.

PSS Sleman sebagai salah satu klub peserta Liga 1 menanggapi dengan bijak keputusan LIB dan PSSI selaku otoritas tertinggi sepakbola Tanah Air. Hal itu disampaikan oleh Marco Gracia Paulo, yang menjabat direktur utama.

“Kami tentu bersyukur dan mendukung segala keputusan dari PSSI dan PT LIB. Namun, apakah jumlah itu relevan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang ada saat ini? Bukan masalah cukup atau tidak, tapi harus benar-benar dicermati dan dihitung,” ungkap Marco.

Bagaimana pun, Marco bicara realistis bahwa nominal yang ditawarkan LIB memang tidak cukup. Kondisi saat ini tentu sangat menyulitkan semua pihak, khususnya klub, yang pendapatan mereka berkurang karena tak ada penonton, belum lagi risiko kehilangan sponsor.

“Klub seperti kami [di Sleman] tidak mendapat kemudahan seperti tim-tim lain dari luar Jawa. Mereka dapat diskon hotel sebesar 50 persen. Nah, jika bicara segi bisnis Rp800 juta tidak masuk,” beber pria yang pernah menjadi orang penting Badak Lampung itu.

“Namun, apapun itu PSS tetap memberikan apresiasi dan siap melanjutkan kompetisi. Kami tetap mendukung agar sepakbola kita terus berkembang setiap musimnya,” tukas Marco.

Dengan penyesuaian kompetisi yang digelar terpusat di Pulau Jawa, dapat dipastikan bahwa Super Elang Jawa juga harus berbagi homebase dengan tim peserta lain, utamanya mereka yang berasal dari luar Pulau Jawa.

Daerah Istimewa Yogyakarta memang menjadi destinasi pilihan LIB untuk menjadi sentral bagi klub di luar Pulau Jawa. Mereka yang memilih Stadion Maguwoharjo (markas PSS) sebagai markas antara lain Borneo FC, Persiraja Banda Aceh, dan kemungkinan Barito Putera.