Jika Subsidi dari PT LIB Tetap Rp 800 Juta, PSIS Pilih Pindah ke Jogja

Keputusan PT LIB yang hanya mau mengucurkan subsidi sebanyak Rp 800 juta membuat klub-klub Liga 1 berhitung ulang. Walau masih akan dibahas kembali dalam manager meeting, beberapa klub sudah memikirkan langkah antisipasi. Salah satunya PSIS Semarang.

Tim berjuluk Mahesa Jenar itu rencananya batal menggunakan Stadion Citarum sebagai home base jika subsidi tetap Rp 800 juta. Hal tersebut dikatakan CEO PSIS Yoyok Sukawi. Dia menyebut, nilai itu tidak akan cukup untuk biaya operasional klub selama kembali berkompetisi di Liga 1.

Yoyok menuturkan, klubnya akan memilih Jogjakarta jika memang subsidi tetap Rp 800 juta. ’’Kalau segitu tentu sangat memberatkan klub. Kami memilih main di Jogja saja dengan jaminan akomodasi ditanggung LIB,’’ ujarnya.

Jika akomodasi ditanggung, otomatis biaya operasional klub tidak akan terlalu membengkak. Selain akomodasi hotel yang ditanggung LIB, PSIS akan lebih irit karena transportasi serta sewa lapangan juga akan ditanggung LIB. Terlebih, skuadnya juga tidak akan terlalu capek melakoni kompetisi.

Sebagaimana diketahui, setidaknya ada enam klub yang sudah memilih berkandang di sana. Ada Bali United, Borneo FC, PSM Makassar, Persiraja Banda Aceh, PSS Sleman, dan Persija Jakarta. ’’Apalagi, kemarin teman-teman suporter juga menyarankan kami main di Jogja supaya lebih aman,’’ tuturnya.

Yoyok mengakui PSIS saat ini berada dalam kondisi finansial yang sulit. Tidak ada pertandingan otomatis tidak ada pemasukan. Penjualan merchandise pun sangat lesu sehingga timnya hanya berharap subsidi untuk menopang kebutuhan sehari-hari.

’’Dari awal kami sudah sampaikan sangat berat beban klub ini di tengah pandemi. Ingat, sepak bola Indonesia hanya memenuhi kebutuhan hiburan, bukan yang utama di masyarakat. Sulit cari pendapatan alias jualan dalam kondisi saat ini. Tapi, kami masih berusaha terus bertahan,’’ papar pria yang juga anggota Exco PSSI tersebut.

Subsidi yang baru dibayar dua termin saja membuat pemegang saham PSIS sudah ’’berdarah-darah’’ sejak Maret lalu.

Yoyok mengatakan, pihaknya ingin subsidi naik bukan semata-mata hanya melihat dari segi bisnis. Tidak hanya untuk pemasukan tim saja, tapi juga untuk para pemain agar haknya menjadi pemain PSIS juga bertambah ketika kompetisi dilanjutkan. ’’Kalau subsidi naik, kami akan berikan ke pemain. Apalagi, perwakilan pemain sudah memberikan mandat ke manajemen untuk memperjuangkan hak mereka di tengah situasi seperti ini,’’ paparnya.

Hal berbeda dilakukan PSS Sleman. PSS lebih memilih mencermati dan menghitung ulang terkait dana Rp 800 juta untuk berkompetisi di Liga 1.

Direktur Utama PT PSS Marco Paulo Gracia menyatakan, LIB harus melihat gambaran besar kebutuhan klub lebih dulu. Bukan hanya soal Rp 800 juta saja, melainkan juga berbagai risiko yang akan dihadapi ketika melanjutkan kompetisi di tengah pandemi korona. ’’Apalagi, klub seperti kami tidak mendapat kemudahan seperti tim-tim lain dari luar Jawa. Misal hotel yang didiskon. Kalau kami hitung secara keseluruhan, jika berbicara segi bisnis, angka yang ditawarkan LIB itu tidak masuk,’’ bebernya.

Namun, Marco menyebut PSS tetap memberikan apresiasi kepada PSSI dan LIB yang akan melanjutkan kompetisi. Super Elang Jawa juga akan siap ikut berkompetisi lagi. ’’Kami akan mendukung terus agar sepak bola Indonesia tetap berkembang setiap tahunnya,’’ katanya.