Persebaya Berharap PSSI Belajar dari Kompetisi Luar Negeri

Lanjutan Liga 1 musim 2020 dimulai 1 Oktober nanti. Manajemen Persebaya ingin federasi belajar dari kompetisi luar negeri yang sudah bergulir.

Beberapa negara Asia memang sudah memulai kompetisinya. Sebut saja Korea Selatan dan Vietnam. Malaysia juga berencana memulai liga pada 22 Agustus mendatang. Namun, jelang kompetisi, dua pemain Kuching FA dinyatakan positif Covid-19.

Adanya kasus positif membuat klub lain jadi khawatir akan kesehatan pemainnya. Sekretaris Persebaya Ram Surahman tidak ingin kasus serupa terjadi di Liga 1. Apalagi, persebaran Covid-19 di Indonesia masih menakutkan. Karena itu, dia meminta PSSI benar-benar memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi.

Karena itu, kalau memang kompetisi dimulai 1 Oktober, Ram menyebut PSSI masih punya banyak waktu. ’’Itu keuntungan. Jadi, PSSI bisa belajar dari kasus-kasus di negara yang kompetisinya sudah jalan. Apa kasus yang terjadi di sana? Kemudian, kalau terjadi di Liga 1, bagaimana solusinya? Harus dipikirkan,’’ tegas pria yang pernah menjabat media officer Persebaya itu kepada Jawa Pos.

Sejauh ini, belum ada gambaran yang jelas dari pihak federasi. Bahkan, Persebaya juga belum mendapat panduan protokol kesehatan. Tapi, pihak PSSI sudah berjanji akan mengadakan pertemuan langsung dengan perwakilan 18 klub Liga 1 awal bulan ini. Hal itu disambut baik oleh Persebaya.

’’Ini bagus karena bertemu langsung. Dan kami harap semua masalah bisa klir di pertemuan itu,’’ tambah Ram.

Manajemen Persebaya memang menunggu kejelasan sebelum bergerak. Selain protokol kesehatan, Ram sempat menyorot aturan gaji 50 persen. Hal itu bisa membuat klub dituntut ke FIFA jika ada pemain yang tidak terima. Karena itu, dia meminta jaminan dari federasi bahwa aturan gaji 50 persen tidak akan membahayakan klub di akhir musim nanti.

Jika semua dianggap sudah beres, tim bisa kembali melakukan latihan. Pelatih Persebaya Aji Santoso berharap latihan sudah bisa dilakukan pada pekan kedua Agustus. Hanya, pelatih 50 tahun itu pesimistis latihan bisa digelar di Surabaya. Apalagi, dia tahu bahwa Stadion Gelora Bung Tomo dan Gelora 10 November tengah direnovasi. ’’Makanya, ini (tempat latihan) juga jadi kendala. Masih kami cari jalan keluarnya,’’ katanya kepada Jawa Pos.

Aji tahu tidak mudah untuk bisa menggelar latihan. Apalagi selama pandemi masih berlangsung. Banyak syarat yang harus dipenuhi klub agar latihan bisa berjalan. ’’Selain sulit menemukan tempat latihan, kami harus mematuhi protokol kesehatan. Dan tentu harus ada izin dari pihak terkait,’’ terang mantan pelatih Persela Lamongan dan Arema FC tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.