Manajemen PSIS Sebut Klub Tak Punya Dana untuk Penuhi Protokol Kesehatan

General Manager PSIS Semarang, Wahyoe Winarto, mengaku keberatan dengan protokol kesehatan yang diberikan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19.

Wahyoe menilai, protokol kesehatan tersebut menyulitkan pihak klub.

Sebelumnya, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah berkordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 membuat protokol kesehatan.

Nantinya protokol kesehatan tersebut harus dipatuhi oleh setiap klub.

Salah satu yang wajib dilakukan oleh klub adalah pemain dan seluruh ofisal tim harus melakukan swab test sebelum menjalani pertandingan.

Syarat itu lah yang menurut Wahyoe sulit untuk dipenuhi.

“Persyaratannya cukup ketat. Saya yakin tidak bisa dipenuhi,” kata Wahyoe dilansir Bolanas.com dari Antara.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Liluk itu mencontohkan syarat pemain dan ofisial harus dikarantina usai swab test yang juga dirasa memberatkan klub.

“Apakah ada klub yang mempunyai tempat isolasi mandiri,” ujar Liluk.

“Saat pertandingan tandang tidak mungkin klub meyewa satu hotel atau apartemen hanya khusus untuk satu tim,” lanjutnya.

Menurut Liluk, syarat tersebut sulit dipenuhi mengingat saat ini kondisi keuangan rata-rata klub sedang tidak baik.

Mandeknya kompetisi selama tiga bulan lebih membuat klub tak memiliki pemasukan sama sekali.

Liluk pun berharap PSSI dan PT LIB bisa meninjau ulang persyaratan yang harus dipenuhi oleh klub peserta.

“Saat pertandingan tandang tidak mungkin klub meyewa satu hotel atau apartemen hanya khusus untuk satu tim,” lanjutnya.

Menurut Liluk, syarat tersebut sulit dipenuhi mengingat saat ini kondisi keuangan rata-rata klub sedang tidak baik.

Mandeknya kompetisi selama tiga bulan lebih membuat klub tak memiliki pemasukan sama sekali.

Liluk pun berharap PSSI dan PT LIB bisa meninjau ulang persyaratan yang harus dipenuhi oleh klub peserta.