Kalau Bukan Perang di Libya, Mungkin Makan Konate Tidak ke Indonesia

Karier sepak bola Makan Konate di Indonesia bisa dibilang sangat berkesan.

Mungkin jika tidak ada perang, Makan Konate sepertinya tak akan berkarier di persepakbolaan Tanah Air.

Sebelum ke Indonesia, Makan Konate sempat berkarier dengan bergabung bersama klub asal Mali, Stade Mallien, pada musim 2008-2010.

Memasuki usia 19 tahun, Makan Konate mendapatkan tawaran untuk berkarier di Libya pada musim 2011.

Pemain berposisi gelandang serang itu sepakat bergabung bersama klub Al Akhdar SC.

Pertualangannya yang baru dimulai itu di Libya harus berakhir dengan cepat.

Alasannya karena saat itu di Libya tengah terjadi perperangan yang membuat Makan Konate memutuskan keluar.

Perang Saudara Libya 2011 adalah konflik yang merupakan bagian dari Musim Semi Arab.

Perang ini diawali oleh unjuk rasa di Benghazi pada 15 Februari 2011 untuk menuntut mundur pemimpin Libya, Muammar al-Qaddafi, yang sudah lama berkuasa.

Bersama Al Akhdar SC, Makan Konate hanya bermain 11 kali dengan mencetak dua gol.

Makan Konate akhirnya memutuskan kembali ke negara asalnya, Mali.

Di Mali, Makan Konate terus berlatih hingga akhirnya bertemu dengan salah satu agen yang membawanya ke Indonesia.

“Waktu saya bermain di Libya, di sana ada perang yang membuat kompetisi berhenti,” kata Makan Konate dalam channel YouTube Hanif dan Rendy Show seperti dilihat BolaSport.com.

“Akhirnya saya pulang ke Afrika. Saya latihan di sana selama tiga bulan. Lalu saya ditawarkan oleh agen saya Mamadou. Saya pun akhirnya kerjasama dengan dia,” ucap pemain yang identik dengan nomor punggung 10 itu.

Makan Konate harus menunggu satu tahun untuk bisa melanjutkan perjalanannya di dunia sepak bola.

Ia pun dicarikan klub sepak bola asal Indonesia oleh agennya tersebut.

“Agen saya bilang, ia bisa mencarikan klub di Indonesia.”

“Pertama saya dengar Indonesia, saya tanya ke agen, Indonesia itu daerah mana,” ucap Makan Konate.

Pertualangan Makan Konate di persepakbolaan Indonesia akhirnya dimulai pada 2012.

Makan Konate bergabung bersama PSPS Pekanbaru selama setengah musim.

Pada putaran kedua, Makan Konate pindah ke Barito Putera.

Total 12 gol dicetak Makan Konate dari 30 pertandingan yang dimainkan saat membela PSPS Pekanbaru dan Barito Putera.

Permainannya yang gemilang membuat Persib Bandung tertarik mendapatkan tanda tangannya.

Pada musim 2014, Makan Konate sepak bergabung dengan Maung Bandung.

Di musim pertamanya itu, Makan Konate mampu membawa Persib Bandung meraih gelar juara Liga Indonesia 2014.

Pada musim 2015, Makan Konate juga mempersembahkan juara Piala Presiden ke klub kebanggaan Jawa Barat tersebut.

Kesuksesannya di Indonesia membuat Makan Konate memutuskan untuk pindah ke Malaysia.

Ia diajak oleh pelatih Rahmad Darmawan untuk bergabung bersama klub kasta kedua, T-Team.

Alasan Makan Konate pindah saat itu karena FIFA tengah menghukum Indonesia.

Sehingga PSSI tidak bisa menggulirkan kompetisi sepak bola pada musim 2015.

Perjalanan Makan Konate di Malaysia tidak mulus karena mendapatkan cedera yang cukup parah sehingga harus absen selama satu musim.

Ia memutuskan kembali ke Indonesia pada 2018 dengan bergabung bersama Sriwijaya FC.

Permainan Makan Konate bersama Sriwijaya FC hanya setengah musim karena klub asal Palembang itu tak lagi mampu membayar gaji pemain.

Makan Konate akhirnya pindah ke Arema FC pada pertengahan musim kedua Liga 1 2018.

Satu setengah musim di Singo Edan, Makan Konate memutuskan pindah ke rival Arema FC, Persebaya Surabaya, pada tahun 2020.

Perjalanan Makan Konate bersama Persebaya Surabaya terpaksa tertunda akibat pandemi Covid-19 di seluruh belahan dunia termasuk Indonesia.

Namun begitu, Makan Konate tetap akan menjadi bagian Persebaya Surabaya.

Sebab, kompetisi Liga 1 2020 akan kembali dilanjutkan pada 1 Oktober mendatang.

“Alhamdulillah saya betah di Indonesia ya banyak teman dan kenangan di Indonesia.”

“Saya suka Indonesia juga negaranya muslim. Masyarakatnya baik-baik juga, saya tidak pernah punya masalah dengan klub dan manajemennya baik-baik. Indonesia itu negaranya baik dan luar biasa,” tutup Makan Konate.