Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Kasih Syarat Wajib Untuk PSSI Melanjutkan Kompetisi

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo, memberikan syarat utama kepada PSSI untuk melanjutkan kompetisi musim ini. Bila federasi sepakbola nasional tersebut tidak memenuhi, maka Doni menyatakan pihaknya tak memberi izin.

Doni menjelaskan kondisi di Tanah Air, belum aman untuk melangsungkan kompetisi. Masih tingginya penyebaran COVID-19 di berbagai wilayah Indonesia yang jadi alasannya.

“Sejauh ini kita tidak tahu COVID-19 akan berakhir. Belum ada satu pun pakar yang jamin COVID ini akan berakhir. Saya sudah bicara dengan Menpora [Zainudin Amali] kaitannya dengan kompetisi dan ketua KONI [Marciano Norman],” kata Doni saat dihubungi awak media.

“Salah satu olahraga berisiko adalah permainan. Antara lain basket, sepakbola, yang pasti ada kontak fisik. Termasuk voli pun, walau tidak ada kontak dengan lawan, tapi dengan satu tim bisa terjadi gesekan badan, makanya harus ada perhatian khusus,” Doni menambahkan.

Maka dari itu, Doni menegaskan protokol kesehatan ketat wajib diterapkan jika PSSI tetap melangsungkan kompetisi. Dijadwalkan pertadingan lanjutan Liga 1 digelar pada 1 Oktober mendatang.

Kepastian tersebut didapatkan setelah operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB), menerbitkan surat bernomor 244/LIB-COR/VII/2020. Seluruh klub sudah diberitahukan terkait hal itu.

Selebrasi Arema FC – Johan Farizi – Elias Elderete – Kushedya Hari
Nantinya, semua pertandingan Liga 1, dipusatkan di Pulau Jawa. Tidak boleh ada penonton dalam setiap laga dimainkan untuk mencegah infeksi virus corona yang penyebarannya masih luas.

“Kalau seandainya PSSI menyelenggarakan kompetisi dengan catatan seluruh pemain, wasit, termasuk suporter yang ada di dalam satu area itu dilaksanakan PCR test dan semua negatif. Kemudian seluruhnya dikarantina dan tak boleh berhubungan dengan siapa pun juga. Artinya dalam kondisi aman,” ujarnya.

“Kalau tidak ada yang positif COVID-19, itu paling tidak pemeriksaan tidak bisa sekali. Sepanjang kegiatan berlangsung berapa hari sekali harus ada swab test, bukan rapid test.”

“Ketika hasilnya negatif, mereka harus isolasi semua. Mereka tidak boleh ketemu orang lain, harus dikarantina. Mereka bisa kompetisi tanpa penonton. Itu sudah disampaikan ke Menpora, rasanya sulit,” sosok berusia 52 tahun itu menambahkan.

Kompetisi nasional sudah berhenti bergulir sejak pertengahan Maret lalu. Semenjak itu seluruh klub memerintahkan para pemainnya untuk menjalani latihan mandiri di kediaman masing-masing.