Rahmad Darmawan Legawa Soal Pemotongan Nilai Kontrak

Liga 1 2020 akan kembali dilaksanakan pada Oktober mendatang, sesuai surat keputusan dari PSSI bernomor SKEP/53/VI/2020. Dalam surat itu, PSSI juga memaparkan soal nilai kontrak pemain serta ofisial, ketika liga berjalan.

Untuk tim Liga 1, PSSI memperbolehkan mereka untuk memangkas nilai kontrak dalam kisaran maksimal 50 persen, sementara Liga 2 hanya 40 persen. Tentunya, hal ini demi kelangsungan klub, yang juga kesulitan secara ekonomi.

Rahmad Darmawan selaku Madura United dan anggota Komite Eksekutif (Exco) APSSI (Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia), menilai kebijakan tersebut masih bisa diterima, karena tidak ada yang tidak sulit di masa sekarang.

“Pelatih sudah sepakat melalui APSSI bahwa kami [para pelatih] siap mengenai pemotongan gaji sampai 50 persen,” beber sosok yang akrab disapa RD itu, kepada awak media.

“Saya rasa dengan kondisi seperti sekarang ini, kami harus menjadi orang-orang yang bijak, menjadi orang seperti ini,” sambung mantan arsitek timnas Indonesia tersebut.

Moch. Iriawan selaku ketua umum PSSI pernah menjelaskan perkara penyesuaian nilai kontrak, yang wajib diberlakukan dalam kondisi seperti ini. Karena situasi pandemi virus corona, otomatis pemasukan klub berkurang.

Salah satu yang paling terasa adalah tidak adanya pemasukan dari penjualan tiket di stadion. Karena sesuai rencana dan demi protokol kesehatan, pertandingan mesti dilaksanakan secara tertutup agar aman dari penularan Covid-19.

“Tidak hanya kami menginginkan apa yang kami dapatkan, tetapi harus melihat bagaimana tidak mudah saat ini. Khusunya klub-klub di Indonesia, mereka tidak seperti di Eropa,” ungkap RD dengan bijak.

Sebelum mengeluarkan surat terkait pelaksanaan kompetisi di tengah situasi pandemi, PSSI pada Maret lalu menerbitkan surat soal pemberhentian kompetisi sementara waktu, dengan memberikan status keadaan kahar pada kondisi saat ini.

Dalam kebijakan tersebut, PSSI yang menetapkan bahwa Maret hingga Juni adalah keadaan kahar, memperbolehkan klub untuk membayarkan gaji bulanan pemain dan ofisial maksimal sebesar 25 persen.

Kebijakan gaji maksimal 25 persen itu diperpanjang melalui surat teraktual PSSI, bahwa klub bisa melanjutkan kebijakan tersebut hingga Agustus. Kebijakan baru soal nilai kontrak mulai diterapkan satu bulan sebelum kompetisi, atau September.