Persebaya Surabaya Khawatirkan Gaji Pemain Seperti Argo Taksi

Manajemen Persebaya Surabaya tidak ingin terburu-buru melakukan renegosiasi kontrak pemain, terutama terhadap legiun asing, untuk menghindari kemungkinan munculnya permasalahan di masa mendatang.

PSSI telah menetapkan lanjutan Liga 1 2020 digulirkan Oktober. Selain kepastian kompetisi, induk organisasi sepakbola nasional ini juga mengizinkan klub memangkas separuh gaji pemain dan pelatih dari nilai kontrak awal.

Sekretaris klub Ram Surahman mengutarakan, aturan itu bisa memberikan dampak buruk bagi klub. Menurutnya, tidak mudah merayu legiun asing. Bila mereka tidak menerima renegosiasi yang diajukan klub, pemain asing ini bisa saja mengajukan gugatan.

“Pemain asing bisa saja melapor ke FIFA jika mengalami masalah di Indonesia. Kalau nanti kemudian klub Liga 1 kalah bagaimana? Hal-hal seperti ini kan harus diberi solusi yang konkret,” ujar Ram dikutip laman Jawa Pos.

“Jika kemudian klub Liga 1 kalah, artinya manajemen harus membayar penuh gaji pemain. Ibarat taksi, kendaraan sedang berhenti, tapi argo pembayaran tetap berjalan.”

Ram menambahkan, manajemen menginginkan adanya kepastian jadwal terlebih dulu sebelum melakukan renegosiasi kontrak. Sebab, bila kompetisi dilanjutkan Oktober, kemungkinan baru selesai antara Maret dan April 2021. Di lain sisi, kontrak pemain akan habis pada akhir tahun ini.

“Misal kami sudah renegosiasi kontrak, ternyata kompetisi baru berakhir tahun depan, mau enggak mau kami harus renegosiasi lagi, karena mayoritas kontrak pemain berakhir Desember nanti,” papar Ram.

Ram menilai pertemuan maupun komunikasi antara klub dan operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) mesti lebih digiatkan, sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Ini sebenarnya hal-hal teknis yang harus segera diselesaikan. Semakin cepat [ada pertemuan] malah semakin baik. Ini harus segera ada kejelasan,” tegas Ram.

Persebaya sampai sekarang belum mempunyai agenda untuk memulai latihan tim, karena mereka terlebih dulu ingin melihat perkembangan pandemi virus Corona. Apalagi Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki kasus pandemi cukup tinggi.