Persita Tangerang Konsisten Minta Kompetisi Tahun Ini Dihentikan

Presiden Klub Persita Tangerang Ahmed Rully Zulfikar menegaskan sikapnya soal kelanjutan kompetisi. Mereka meminta PSSI untuk menghentikan kompetisi tahun ini karena korban kasus COVID-19 dari hari ke hari terus bertambah.

“Ya, ini masalah kesehatan dan kondisinya sekarang bukan semakin baik, malah makin bertambah. Hari ini seribu lebih lagi, setiap hari penambahan yang positif seribu lebih,” tegasnya.

Dia menegaskan, dari awal Persita konsisten untuk dihentikan dulu kompetisi pada 2020 ini. Sebab, protokol kesehatan yang akan dilakukan, bukan jaminan cukup untuk mengantisipasi penyebaran Corona.

“Saya dari awal konsisten, bukannya nggak mau dilanjutkan, ya ini karena terlalu berisiko. Buat saya lebih baik tahun ini berhenti dulu kompetisi. Banyak sekali indikatornya, soal keamanan, keselamatan dan kesehatan pemain. Jadi, bukan rapid test kemudian menyelesaikan masalah,” imbuhnya.

Menurut dia, yang paling tepat untuk protokol kesehatan ialah melakukan swab test.

Kekhawatirannya, nanti andai kompetisi jalan, kemudian di tengah jalan ada satu yang positif, maka satu tim dikarantina.

Minimal, karantina dua pekan, untuk dilihat lagi dan belum lagi untuk penyembuhannya.

“Kalau ada dikarantina, otomatis jadwalnya berubah, kalau jadwal sudah berubah, otomatis waktu kompetisi mundur lagi, bagaimana kompetisinya nanti?” terangnya.

keberlangsungan kompetisi ini memang harus diperhatikan benar. Kalau dipaksakan, lanjut dia, akibatnya bisa lebih fatal.

“Tiba-tiba pemain, ada penyakit bawaan, ini kan tidak terdeteksi. Ya, harus bisa dicek satu-satu dulu takut ada penyakit bawaannya. Melihat kompleksnya yang harus diperhatikan betul, ada baiknya kompetisi ini dihentikan dulu, lebih baik pikirkan tahun depan, agar jelas mulainya,” dia menandaskan.

Hanya, Rully memberikan pandangan kalau kemudian ke depan keadaannya membaik. Bisa saja, PSSI menyiapkan sebuah turnamen, sehingga sepak bola bisa jalan lagi.

“Tetapi ini kalau kondisi membaik ya, bisa bikin turnamen mungkin di dua bulan terakhir di 2020 ini. Kalau tidak, ya harus dipikirkan ulang karena faktor kesehatan dan keselamatan seluruh tim mulai pemain, pelatih dan ofisial harus dikedepankan,” ucapnya. (dkk/jpnn)