Gelandang Persita Pernah Dikontrak Dua Tahun untuk Main Sinetron

Gelandang Persita Tangerang, Redi Rusmawan pernah menjadi aktor dalam salah satu sinteron ternama berjudul ‘Tendangan si Madun’.

Pada tahun 2011, Redi diajak temannya untuk mengikuti audisi sinteron tersebut di Jakarta seusai berlatih dengan tim Persikabo U-17.

Kala itu, pemain bernomor punggung 99 ini belum pernah menginjakkan kaki di Jakarta.

Ia pun berangkat bermodalkan uang yang dia pinjam dari ibunya

“Ibu dulu nanya ngapain ke Jakarta, saya jawab untuk jalan-jalan,” kata Redi dikutip BolaSport dari Tribun Jakarta.

Redi dan rekannya berangkat ke Jakarta pada waktu subuh dengan menaiki KRL.

Saat tiba dilokasi, ia diwajibkan membayar administrasi sebesar Rp 10 ribu guna mendapatkan formulir pendaftaran.

“Disana saya harus antri. Ada ribuan orang, saat antri, saya tau ada persyaratan foto 2×4. Saya pun harus jalan kaki sekitar tiga Km ke tempat cuci foto,” ujar Redi.

Dari sekian ratus peserta yang mendaftar hanya dipilih 10 orang saja.

Beruntungnya, nama Redi termasuk dalam sepuluh orang itu usai menjalani berbagai tes.

Pemain bernomor punggung 99 itu langsung ditawari kontrak selama dua tahun.

Namun sayangnya, rekan yang mengajak Redi ikut audisi tidak lolos.

“Saat audisi, yang di tes itu kemampuan mengolah bola, seperti freestyle, ya seperti permintaan mereka,” ujarnya.

Tak berselang lama, Redi mulai mengalami kesulitan, bukan karena ia kurang cocok dalam akting.

Akan tetapi, Redi cukup kesulitan membagi waktu untuk latihan dan bermain sinerton.

“Saya hanya bermain dalam 30-an episode. Saat itu saya tidak dapat membagi waktu untuk latihan bola, sinetron dan istirahat,” ujar Redi.

“Akhirnya saya keluar dan memilih bermain bola. Saya tidak siap menjadi pesinetron kala itu,” ujar Redi.

Beruntungnya, nama Redi termasuk dalam sepuluh orang itu usai menjalani berbagai tes.

Pemain bernomor punggung 99 itu langsung ditawari kontrak selama dua tahun.

Namun sayangnya, rekan yang mengajak Redi ikut audisi tidak lolos.

“Saat audisi, yang di tes itu kemampuan mengolah bola, seperti freestyle, ya seperti permintaan mereka,” ujarnya.

Tak berselang lama, Redi mulai mengalami kesulitan, bukan karena ia kurang cocok dalam akting.

Akan tetapi, Redi cukup kesulitan membagi waktu untuk latihan dan bermain sinerton.

“Saya hanya bermain dalam 30-an episode. Saat itu saya tidak dapat membagi waktu untuk latihan bola, sinetron dan istirahat,” ujar Redi.

“Akhirnya saya keluar dan memilih bermain bola. Saya tidak siap menjadi pesinetron kala itu,” ujar Redi.