Persiraja Banda Aceh Siap Bayar Gaji Pemain Sesuai SK Terbaru PSSI

Persiraja Banda Aceh siap membayar gaji pemain sesuai dengan surat keputusan (SK) terbaru PSSI untuk bulan Juli-Agustus 2020 sebesar 50-60 persen.

Sekretaris Umum Persiraja Banda Aceh, Rahmat Djailani, mengatakan pihaknya tidak keberatan harus membayar gaji pemain, pelatih, dan ofisial sesuai dengan surat yang ditetapkan PSSI.

Persiraja Banda Aceh sebagai anggota dari PSSI sejak awal menyatakan bakal menghormati keputusan dari federasi mengenai kelanjutan Liga 1.

Melalui SK bernomor SKEP/53/VI/2020 tentang kelanjutan kompetisi dalam keadaan luar biasa tahun 2020, PSSI resmi memutuskan Liga 1, Liga 2, dan Liga 3 musim 2020 bergulir kembali mulai Oktober mendatang.

Dengan dilanjutkannya Liga 1 2020, tentu saja klub-klub harus memenuhi gaji pemain selama bulan Juli-Agustus.

Sebelumnya PSSI sempat mengeluarkan SK nomor SKEP/48/III/2020 yang mengatur kebijakan besaran gaji yang harus dibayarkan klub kepada pemain selama kompetisi Liga 1 berhenti.

Dalam surat tersebut, disebutkan bahwa klub perlu membayar gaji pemain, pelatih, dan ofisial maksimal 25 persen dari nilai kontrak.

Surat keputusan tersebut menjelaskan gaji maksimal 25 persen itu untuk Bulan Maret hingga Juni saat kondisi kahar atau force majeure.

Artinya, selepas bulan Juni, sebelumnya tidak diketahui besaran gaji yang harus dibayarkan klub karena SK lama PSSI sudah tidak berlaku.

PSSI akhirnya mengeluarkan kebijakan baru dalam SKEP/53/VI/2020, yang menetapkan bahwa pembayaran gaji pemain sebesar 50-60 persen.

Tetapi, dalam surat tersebut tidak dijelaskan mengenai gaji untuk Bulan Juli-Agustus.

Menanggapi hal itu, Rahmat Djailani mengaku sempat bingung untuk kejelasan gaji pemain selama Bulan Juli-Agustus.

Apabila memang sudah ada SK baru terkait gaji 50-60 persen, Persiraja akan patuh dengan keputusan tersebut.

“Kami sebenarnya masih bingung untuk Bulan Juli-Agustus. Tetapi, sepertinya kami akan merujuk pada SK terbaru,” kata Rahmat Djailani kepada BolaSport.com.

“Dalam SK terbaru dibilang kisaran 50-60 persen, ya kami akan merujuk ke SK tersebut,” ucapnya.

Namun, Rahmat Djailani mengatakan bahwa gaji pemain yang dibayarkan akan sesuai dengan SK terbaru kalau subsidi sesuai dengan permintaan Persiraja dan klub lain.

“Kalau ada subsidi Rp1,5 miliar, kami siap membayar (sesuai SK terbaru),” ujar Rahmat Djailani.

Bukan tanpa alasan Persiraja Banda Aceh meminta subsidi Rp1,5 miliar.

Pasalnya, uang itu nanti akan digunakan untuk tambahan gaji pemain, pelatih, dan ofisial.

Rencananya dalam lanjutan kompetisi, setiap tim Liga 1 masing-masing mendapatkan subsidi Rp800 juta per termin, meningkat dari jumlah yang diterima sebelum pandemi, yaitu Rp520 juta.

Artinya, selepas bulan Juni, sebelumnya tidak diketahui besaran gaji yang harus dibayarkan klub karena SK lama PSSI sudah tidak berlaku.

PSSI akhirnya mengeluarkan kebijakan baru dalam SKEP/53/VI/2020, yang menetapkan bahwa pembayaran gaji pemain sebesar 50-60 persen.

Tetapi, dalam surat tersebut tidak dijelaskan mengenai gaji untuk Bulan Juli-Agustus.

Menanggapi hal itu, Rahmat Djailani mengaku sempat bingung untuk kejelasan gaji pemain selama Bulan Juli-Agustus.

Apabila memang sudah ada SK baru terkait gaji 50-60 persen, Persiraja akan patuh dengan keputusan tersebut.

“Kami sebenarnya masih bingung untuk Bulan Juli-Agustus. Tetapi, sepertinya kami akan merujuk pada SK terbaru,” kata Rahmat Djailani kepada BolaSport.com.

“Dalam SK terbaru dibilang kisaran 50-60 persen, ya kami akan merujuk ke SK tersebut,” ucapnya.

Namun, Rahmat Djailani mengatakan bahwa gaji pemain yang dibayarkan akan sesuai dengan SK terbaru kalau subsidi sesuai dengan permintaan Persiraja dan klub lain.

“Kalau ada subsidi Rp1,5 miliar, kami siap membayar (sesuai SK terbaru),” ujar Rahmat Djailani.

Bukan tanpa alasan Persiraja Banda Aceh meminta subsidi Rp1,5 miliar.

Pasalnya, uang itu nanti akan digunakan untuk tambahan gaji pemain, pelatih, dan ofisial.

Rencananya dalam lanjutan kompetisi, setiap tim Liga 1 masing-masing mendapatkan subsidi Rp800 juta per termin, meningkat dari jumlah yang diterima sebelum pandemi, yaitu Rp520 juta.