Tiga Klub Tidak Setuju Kompetisi Liga 1 Dilanjutkan

Sebanyak tiga klub Liga 1 2020 tidak setuju kompetisi kembali dilanjutkan.

Tiga klub tersebut memiliki alasan yang sama yakni pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum melandai.

PSSI sebelumnya telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) bernomor SKEP/53VI/2020 untuk menggulirkan kembali kompetisi pada Oktober mendatang.

Tak hanya Liga 1, PSSI juga memastikan Liga 2 dan Liga 3 akan bergulir serentak di bulan yang sama.

Dalam SK tersebut PSSI meminta klub untuk melakukan revisi kesepakatan kontrak kerja yang telah disepakati dan ditandatangani sebelumnya.

Untuk pembayaran gaji pemain dan staf pelatih dipotong sebesar 50 persen selama kompetisi berlangsung.

Selain itu, Liga 1 2020 juga akan dipusatkan digelar di Pulau Jawa.

Klub-klub di luar Pulau Jawa akan berhomebase di Yogyakarta dengan dibantu pembayaran penyewaan hotel dari PSSI.

Tak hanya itu, tidak ada degradasi untuk Liga 1 2020.

Meski begitu, tetap ada dua tim Liga 2 2020 yang promosi ke Liga 1 2021 tahun depan.

PSSI juga sudah menambahkan dana subsidi setiap bulan ke klub menjadi Rp 800 juta.

Sebelum pandemi Covid-19, klub hanya mendapatkan dana sebesar Rp 520 juta.

SK PSSI mengundang komentar dari beberapa klub Liga 1 2020.

Ada yang setuju kompetisi dilanjutkan, namun ada juga yang tidak setuju meskipun akhirnya menerima SK dari PSSI.

BolaSport.com merangkum sikap tiga klub Liga 1 2020 yang tidak setuju kompetisi digelar.

Ketiga klub tersebut menyatakan keberatannya pada 1 Juli 2020.

Barito Putera

CEO Barito Putera, Hasnuryadi Sulaiman, mengatakan pihaknya tidak setuju Liga 1 2020 dilanjutkan kembali.

Alasan Hasnuryadi karena virus corona yang belum menunjukan penurunan di Indonesia.

Menurut Hasnuryadi, setiap harinya ada banyak kasus positif Covid-19 yang terjadi di Tanah Air.

Setidaknya sampai 1 Juli 2020, ada 57.770 orang positif, 25.595 dinyatakan sembuh, dan 2.934 meninggal dunia.

Barito Putera merasakan dampak Covid-19 di Indonesia.

Salah satu asisten pelatih Barito Putera, Yunan Helmi, sempat dinyatakan positif Covid-19 dan harus dirawat selama satu bulan.

“Kami merasakan betapa sulit dan sakitnya anggota keluarga kami saat harus melawan pandemi ini,” kata Hasnuryadi.

“Prinsip kami mencegah lebih baik daripada mengobati. Karena resiko cukup besar, kami memilih untuk bersikap hati-hati demi keselamatan ke depan.”

“Kami menghormati putusan PSSI tetapi kami mempunyai pertimnbangan dan pandangan lain dalam mencintai bangsa ini ketika menghadapi pandemi virus corona yang tengah melanda dunia, termasuk di dalamnya mencintai dunia sepak bola nasional,” kata Hasnuryadi.

Persebaya Surabaya

Sama dengan Barito Putera, Persebaya Surabaya juga tidak setuju Liga 1 2020 dilanjutkan.

Presiden Persebaya, Azrul Ananda, menghormati keputusan PSSI terkait kelanjutan Liga 1 2020.

Menurut Azrul, di tengah situasi Covid-19 sekarang ini, Bajul Ijo mau tidak mau menyatakan sikap tidak setuju untuk dilanjutkan.

Alasan utamanya karena PSSI belum memberikan panduan teknis yang jelas dan detail pada klub apabila kompetisi dilanjutkan.

Padahal itu sangat diperlukan untuk memberikan kepastian kepada semua stakeholder sepak bola.

Kata Azrul Ananda, keputusan untuk melanjutkan Liga 1 di tengah situasi yang serba tidak pasti justru akan menambah resiko dan beban bagi klub.

“Saat ini, energi pemerintah dan seluruh elemen bangsa fokus pada melawan pandemi Covid-19. Belum ada tanda-tanda pandemi ini kapan akan berakhir,” kata Azrul Ananda.

“Terlebih situasi di Surabaya, jumlah pertambahan pasien dan kematian tertinggi di Indonesia. Hal yang sama juga terjadi di kawasan Surabaya Raya (Sidoarjo dan Gresik). Dalam situasi ini, sangat berisiko ada aktifitas sepak bola di semua tingkatan.”

“Pertimbangan-pertimbangan teknis terkait ketidaksetujuan ini sudah pernah kami sampaikan. Terima kasih,” tutup Azrul Ananda

Persik Kediri

Persik Kediri juga memiliki sikap yang sama dengan Persebaya Surabaya dan Barito Putera.

Presiden Persik Kediri, Abdul Hakim Bafaqih, mengatakan keputusan melanjutkan Liga 1 di tengah pandemi Covid-19 sangat beresiko.

Menurutnya, penghentian Liga 1 2020 adalah keputusan yang terbaik.

Hal tersebut karena kurva pasien positif Covid-19 di Indonesia terus meningkat setiap harinya.

Abdul Hakim Bafaqih tidak menutup mata atas kerja keras yang sudah diupayakan PSSI agar Liga 1 musim ini dilanjutkan.

Oleh karena itu, ia berharap PSSI bisa benar-benar menerapkan protokol kesehatan dalam lanjutan Liga 1 2020.

“Kompetisi di tengah pandemi sangat beresiko. Apalagi pandemi Covid-19 di Indonesia belum tampak melandai. Jangkan melandai, titik puncaknya saja belum selesai,” kata Abdul Hakim Bafaqih.