Respon Bonek Atas Sikap Persebaya yang Tolak Liga 1 2020 Dilanjutkan Saat Pandemi Covid-19

Suporter fanatik Persebaya Surabaya, Bonek, tak satu suara atas keputusan manajemen Bajul Ijo yang menolak dilanjutkannya Liga 1 2020.

Keputusan manajemen disinyalir menimbulkan polemik di kalangan bonek.

Pro dan kontra terjadi. Ada yang setuju tapi tak sedikit yang tak sepakat atas sikap tersebut.

Sinyo Devara, salah satu koordinator Tribun Kidul, kelompok suporter Bonek, ikut merespon sikap Presiden Klub Persebaya, Azrul Ananda yang menyatakan tak setuju jika kompetisi dilanjutkan.

Namun, ia enggan menyangkal, juga mengamini pernyataan dari Azrul karena kondisi yang hingga saat ini serba tidak pasti akibat pandemi Covid-19.

“Masih pro kontra tentang liga bergulir lagi,” kata Sinyo pada Surya, Rabu (1/7/2020).

Sebelumnya, Azrul menegaskan bahwa Persebaya tak setuju jika kompetisi dilanjutkan kembali, alasan kesehatan dan keselamatan menjadi dasar pokok pikirannya.

Meskipun, Azrul memastikan ia menghormati keputusan PSSI melanjutkan kembali kompetisi bulan Oktober mendatang lewat keputusan PSSI yang tertuang dalam SK PSSI No. SKEP/53/VI/2020.

Satu harapan yang disampaikan Sinyo adalah situasi bisa secepatnya kembali normal.

“Semoga kembali normal saja,” tuturnya.

Namun, jika saja nantinya kompetisi dilanjutkan, Sinyo berharap protokol kesehatan yang sudah di susun oleh PSSI benar-benar dijalankan secara maksimal.

“Harus dijalankan dengan maksimal agar sepak bola di Indonesia tidak menjadi klaster baru,” ucapnya.

Selain itu, agar klub tidak terlalu terbebani menjalani kompetisi di tengah kondisi pandemi, Sinyo berharap subsidi ditambah.

Sebelumnya, PSSI mewacanakan memberikan subsidi sebesar 800 juta setiap bulan pada klub peserta Liga 1 2020 saat kompetisi kembali digelar.

“Jika benar akan diputar, subsidi tim harus ditambah oleh PSSI, dan hak siar jatuhnya ke tim. Karena sikap sponsor dan tanpa penonton akan menjadi satu masalah besar bagi tim,” katanya.

Pelatih Persebaya Surabaya, Aji Santoso menegaskan akan mengikuti sikap manajemen yang tidak setuju pada keputusan PSSI untuk melanjutkan Liga 1 2020.

Manajemen Persebaya Surabaya mengeluarkan rilis terkait sikap mereka terhadap kelanjutan Liga 1 2020.

Seperti diketahui, PSSI pada 22 Juni 2020 telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) bernomor SKEP//53/VI/2020 tentang kelanjutan kompetisi musim ini.

Dalam suratnya, PSSI memutuskan untuk kembali menggelar semua kompetisi di Indonesia pada Oktober mendatang.

Manajemen Bajul Ijo, lewat laman resmi mereka, menyatakan tidak setuju jika Liga 1 2020 kembali dilanjutkan.

“Persebaya Surabaya menghormati keputusan PSSI terkait kelanjutan Kompetisi Liga Indonesia Tahun 2020. Ini seperti yang tertuang dalam Surat Keputusan PSSI No. SKEP/53/VI/2020 tanggal 22 Juni 2020,” tulis Persebaya dilansir dari laman resmi klub.

“Hanya saja, di tengah situasi pandemi Covid-19 sekarang ini, Persebaya mau tidak mau harus menyatakan sikap tidak setuju untuk dilanjutkan,” tulis Persebaya lagi.

Sikap manajemen Persebaya itu kemudian mendapat respon dari pelatih Bajul Ijo, Aji Santoso.

Mantan pelatih Persela Lamongan tersebut secara singkat menyatakan bahwa dirinya juga merupakan bagian dari tim.

Oleh sebab itu, Aji menegaskan dirinya akan mengikuti setiap keputusan yang dibuat oleh manajemen.

“Saya akan mengikuti apa yang menjadi keputusan dari manajemen karena saya bagian dari Persebaya,” kata Aji Santoso.

Persebaya sendiri punya alasan yang jelas atas ketidaksetujuan mereka terhadap pelaksanaan kembali Liga 1 2020.

Situasi darurat akibat virus corona di Indonesia yang belum mereda menjadi alasan Persebaya kukuh menginginkan agar Liga 1 2020 ditiadakan.

Terlebih, Jawa Timur saat ini menjadi daerah dengan kasus pasien positif COVID-19 tertinggi di Indonesia.

Hingga Rabu (1/7/2020), ada 12.136 kasus pasien positif virus corona di Jawa Timur.

Oleh sebab itu, manajemen Persebaya merasa ironi jika sibuk mengurusi sepak bola sedangkan Surabaya masih rawan virus corona.

“Terlebih situasi di Surabaya, jumlah pertambahan pasien dan kematian tertinggi di Indonesia,” tulis Persebaya.

“Hal yang sama juga terjadi di kawasan Surabaya Raya (Sidoarjo dan Gresik). Dalam situasi ini, sangat berisiko ada aktivitas sepak bola di semua tingkatan,” tutup Persebaya.