Liga 1 Dilanjutkan, Barito Putera Bakal Sesuaikan Kontrak Pemain

Liga 1 2020 akan kembali dilaksanakan Oktober mendatang, sesuai dengan surat keputusan yang dikeluarkan PSSI, pada 28 Maret, dengan nomor SKEP/53/VI/2020, yang ditanda tangani ketua umum Moch. Iriawan.

Barito Putera sebagai salah satu klub peserta Liga 1 siap melakukan penyesuaian pada beberapa hal, termasuk kontrak untuk pemain, pelatih, juga ofisial klub. Hal tersebut dipaparkan manajer klub, Mundari Karya.

“Alhamdulillah Liga 1 2020 kembali akan berlanjut berikut dengan segala persiapan ketat protokoler kesehatan di tengah pandemi virus corona,” ungkap Mundari.

“Tugas awal kami adalah menghubungi pemain dan tim pelatih, satu persatu, secara informal membicarakan rencana rasionalisasi atau renegosiasi kontrak,” sambung mantan pelatih PSPS Pekanbaru dan Persikota Tangerang itu.

PSSI sendiri melalui Iriawan sempat memaparkan bahwa mereka menganjurkan persentase kontrak pemain, pelatih, dan ofisila antara 50 hingga 60 persen. Hal ini perlu dilakukan, karena kondisi keuangan seluruh pihak sedang sulit.

Mundari juga akan membahas persoalan kontrak ini dengan para petinggi Barito, tentunya termasuk Hasnuryadi Sulaiman yang menjabat sebagai pemilik dan CEO dari tim berjuluk Laskar Antasari.

Diharapkan masalah ini bisa segera selesai, sehingga tim pelatih bisa menyusun dan kembali melanjutkan program latihan menyambut kompetisi. “Ya, paling cepat minggu depan sudah ada hasil,” tutup Mundari.

Hingga saat ini klub memang belum menerima arahan jelas bagaimana persoalan kontrak pemain dan pelatih. Dalam pekan ini, bakal diadakan rapat dengan PT Liga Indonesia Baru (LIB), dan juga klub peserta Liga 1 dan Liga 2.

Sebelumnya APPI selaku asosiasi pesepakbola Indonesia dan APSSI yang mewakili pelatih mengutarakan, jangan sampai upah yang diterima para pemain, terutama yang berkompetisi di Liga 2, sampai berada di bawah UMR, atau upah minimum regional.

Dengan dilanjutkannya kompetisi, beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh PSSI adalah protokol kesehatan yang ketat, sentralisasi pertandingan Liga 1 di Pulau Jawa, dan dihapusnya degradasi untuk musim ini.

Sementara untuk Liga 2, akan dimulai dari awal dengan sistem grup yang dibagi menjadi empat dan masing-masing dihuni enam tim. Liga 2 juga tidak menerapkan degradasi, namun jumlah tim promosi dipangkas hanya menjadi dua, dari awalnya tiga.