Hiruk-pikuk Keramaian Sepakbola yang Hilang di Stadion Benteng

Stadion Benteng pernah mewarnai kemilau sepakbola Tangerang di era 1990 sampai 2000-an. Persita Tangerang dan Persikota Tangerang bintangnya.

Maklum, stadion itu adalah yang terbesar di Tangerang pada zamannya. Kedua klub pun mantap memilih Stadion Benteng sebagai kandangnya.

Persita, yang merupakan tim Kabupaten, lebih dulu menggunakan Stadion Benteng. Pendekar Cisadane disahkan menjadi anggota PSSI pada 1953, meski sebenarnya sudah didirikan sejak 1940.

Kiprah Persita di kancah sepakbola nasional dimulai pada pengujung 80-an. Dimulai dari menjadi finalis Divisi II Perserikatan 1987 (edisi perdana), promosi lalu juara Divisi I Perserikatan 1998.

Di masa ini, Persita menggunakan beberapa lapangan sebagai kandangnya, mulai dari Lapangan Ahmad Yani hingga Lapangan LPK.

Setelah menjuarai Divisi I, Persita pun berhak tampil di Divisi Utama Perserikatan musim 1989/1990. Bupati Tangerang saat itu, Tadjus Sobirin, ‘menghadiahi’ Stadion Benteng untuk digunakan Persita di kasta tertinggi Perserikatan saat itu.

Plakat pemberian itu masih terpampang di lorong masuk ke tribune VIP Stadion Benteng, saat detikSport berkunjung ke sana pada, Rabu (3/6/2020), siang. Ada juga plakat peresmiannya yang ditandatangani Gubernur Kepala Daerah Tingkat Jawa Barat, Moh Yogie. Sayang bukti sejarah itu menjadi korban aksi vandalisme.

Corat-coret di plakat peresmian itu adalah potret keseluruhan kondisi terkini Stadion Benteng. Seolah-olah tak pernah ada kisah manis yang pernah terjadi di sana.

Kondisi memprihatinkan langsung terpampang sejak melihat dinding luar stadion dari pagar luar ketika tim detikSport tiba di sana. Bergeser ke lorong untuk masuk ke tribune VIP, suasana tak terawat juga terlihat.

Gerbang-gerbang lorong dalam keadaan terkunci dengan dinding-dinding di sekitarnya penuh coretan. detikSport pun akhirnya menemukan pintu masuk ke dalam stadion lewat pintu di sebelah kiri tribune VIP.

Tak jauh dari pintu masuk itu, terdapat ruangan berwarna kuning yang menjadi lokasi Sekretariat Benteng Mania (Betman), suporter Persikota. Saat masuk ke tribune, pagar-pagar pembatas antara tribune dan lapangan nampak telah beralih fungsi. Pagarnya kini menjadi tempat jemuran pakaian.

Tribunenya cuma berupa cor-coran beton, tak ada kursi single-seat di seluruh penjuru tribune, termasuk di tribune VIP sekalipun. Hampir di semua sudut bawah tribune telah ditumbuhi rumput alang-alang.

Bergeser ke dalam lapangan, suasananya tak banyak berubah jika dibandingkan ke masa-masa saat pertandingan sepakbola masih rutin disiarkan langsung dari Stadion Benteng. Kubah Masjid Raya Al-A’zhom Tangerang masih terlihat di belakang tribune utara Stadion Benteng jika melihatnya dari belakang gawang di sebelah tribune selatan.

Kubah masjid di belakang Stadion Benteng memang sangat ikonik. Karena masjid nampak lebih tinggi dari tribune stadion.

Tak heran pula jika kumandang adzan kerap terdengar saat pertandingan tengah disiarkan langsung pada era Liga Indonesia 2000-an. Bicara lokasi, stadion memang cukup strategis karena berada di pusat kota.

Stadion ini berada di pinggir jalan Taman Makam Pahlawan Taruna. Lokasinya pun diapit oleh SMAN 2 Tangerang di, sementara di sebelah sudut lainnya diapit oleh Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tangerang.

Asal-usul nama stadion ini seolah bisa dipahami ketika masuk ke dalam lapangan. Bangunan tribune berbentuk persegi panjang itu memang nampak seperti benteng yang biasa menjadi lokasi pertahanan kerajaan di masa lampau.

“Sesungguhnya penduduk Tangerang dan Jakarta dahulu lebih mengenal Tangerang dengan sebutan Benteng dari pada istilah Tangerang untuk nama daerah Tangerang sekarang ini, walaupun berdasarkan sumber yang tidak otentik. Sedangkan istilah Tangerang sebagai nama daerah baru dikenal masyarakat luas sekitar tahun 1712,” begitu isi tulisan sejarah singkat Kabupaten Tangerang di laman tangerangkab.go.id.

Mungkin alasan itu pula yang membuat stadion baru di Tangerang kembali menggunakan unsur kata Benteng. Adalah Stadion Benteng Taruna yang kini menjadi primadona baru Tangerang dan telah menjadi kandang Persita sejak Liga 2 2019.

Kabar terkini, kondisi suram Stadion Benteng akan segera berakhir. Ada rencana untuk rehabilitasi stadion agar bisa digunakan di kemudian hari seperti sedia kala.

Sejak 2018, muncul wacana menjadikan Stadion Benteng seperti Istora Senayan, Jakarta. Langkah awalnya adalah penyerahan pengelolaan stadion dari Pemerintah Kabupaten ke Pemerintah Kota.

Beberapa usaha rehabilitasi pun sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa bulan terakhir. Tak heran kalau rumput alang-alang di sekitar stadion sudah tak setinggi seperti dalam foto-foto kondisi Stadion Benteng yang selama ini beredar.

“Stadion Benteng baru diserahkan dari kabupaten ke kota, baru tahun ini. Selanjutnya yang nanti merehab adalah Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), nanti tanya ke Perkim deh rehabilitasi dan segala teknisnya bagaimana,” kata Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kota Tangerang Engkos Jarkasih, kepada detikSport.

Sebelum terbengkalai, Stadion Benteng pernah ramai berkat kiprah Persita dan Persikota. Terutama sejak keduanya sama-sama tampil di Liga Indonesia sejak akhir 90-an.

Persikota yang baru lahir pada 1995, berhasil merangkak naik ke kasta tertinggi dengan promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia musim 1997/98. Mereka pun menemani Persita yang sudah lebih dulu tampil di ajang itu sejak 1994/95.

Persikota berhasil mencuri perhatian sejak musim pertamanya tampil di Liga Indonesia. Julukan Bayi Ajaib pun mulai disematkan kepada mereka. Kiprahnya pada musim-musim selanjutnya pun terbilang stabil.

Saudara tua Persikota yakni Persita juga tak mau kalah. Bahkan Persita hampir menjadi juara Liga Indonesia 2002 dan meraih peringkat ketiga semusim berikutnya.

Persaingan sengit sesama penghuni Stadion Benteng akhirnya merambat ke suporter. Sudah dipastikan kedua kelompok suporter akan baku hantam jika saling berhadapan. Tanpa ada pertandingan pun keduanya kerap melakukan aksi onar di jalan-jalan kota.

Pada 2012, Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat pun mengeluarkan fatwa haram sepakbola di Tangerang akibat ulah kedua kelompok suporter. Fatwa MUI kemudian dilengkapi dengan sulitnya keluar izin keluar dari Polres Tangerang.

Akibatnya Persita dan Persikota tak bisa bermain di stadion itu lagi. Kedua pun akhirnya menjadi tim musafir sejak saat itu. Kondisi itu perlahan-lahan membuat Stadion Benteng tak terawat dan kiprah kedua klub ikut tenggelam.

Persita akhirnya kembali muncul ke permukaan dengan promosi ke Shopee Liga 1 2020. Namun mereka kini sudah berpindah kandang ke Stadion Benteng Taruna.

Sementara Persikota masih terkatung-katung untuk menggelar pertandingan kandangnya dengan berpindah-pindah stadion. Saat Persita sudah kembali ke kasta tertinggi, Persikota masih tercatat sebagai peserta Liga 3.

Persikota sebenarnya pernah beberapa kali berlatih dan bertanding di Stadion Benteng. Namun itu hanya untuk pertandingan ujicoba. Izin dari kepolisian masih sulit didapatkan Persikota kala tampil di Liga 3.

Wajar kalau Stadion Benteng kini terbengkalai. Tak ada event besar lagi di sana sejak ditinggal Persita dan Persikota yang berdampak ke anggaran perawatan stadion.

Saat renovasi Stadion Benteng nanti selesai, akankah Persikota kembali ke sana? Soal itu, Engkos Jarkasih tak bisa menjawab.

“Dispora kan cuma pengguna, belum tahu teknisnya seperti apa. Kami cuma mengusulkan ke Walikota untuk diputuskan penggunaannya nanti untuk apa,” ujarnya.

“Nanti kan disesuaikan, kami hanya mengusulkan. Stadion buat publik olahraga, tapi segala macamnya silakan tanya ke Perkim. Nanti Walikota yang memutuskan,” ucapnya lagi.

(cas/krs)