Asosiasi Pelatih Tak Sepakat Jika Gaji Pelatih Dipotong Rata 50 Persen

Dinamika Liga 1 2020 terus berlanjut. Setelah sebelunnya pro kontra soal kompetisi diteruskan atau tidak, kini beralih ke area kontrak pemain dan ofisial pelatih.

Klub-klub Liga 1 ternyata ingin agar gaji ke pelatih dan pemain dipotong 50 persen (sebelumnya Maret-Juni dipotong 75 persen) jika Liga 1 dimainkan lagi pada September.

Tapi, Ketua Asosiasi Pelatih Sepak bola Seluruh Indonesia (APSSI), Yeyen Tumena, tak setuju dengan harapan klub tersebut.

“Kami harus mempertimbangkannya. Karena kalau bicara pelatih itu ada banyak. Pelatih kepala, asisten pelatih, kitman, dan analis,” ucap Yeyen dalam virtual meeting APSSI yang dihadiri Bolalob.

“Kami ingin semua ini berpatokan dari UMR. Kalau saja tidak sampai ke UMR, itu tidak cocok bagi kami,” tuturnya lagi.

Mengacu pada banyaknya spesifikasi di level pelatih, Yeyen tak mau PSSI mengamini masukan klub sepenuhnya. Perlu adanya penyesuaian gaji dengan besaran potongan.

“Kami memberikan standar kepada PSSI untuk dibicarakan kepada klub. Kita ambil patokannya ada yang dipotong 50 persen, 25 persen, dan tidak sama sekali itu acuannya dari nilai kontrak,” katanya.

“Jika kontraknya di atas Rp600 juta, maka mereka bisa dipotong 50 persen. Tapi kalau kontraknya di atas Rp300 juta dan di bawah Rp600 juta maka gajinya cuma dipotong 25 persen. Yang di bawah Rp300 juta itu harus dibayar full. Itu usulan kami kepada PSSI,” ucap Yeyen lagi.