Ujian Hidup Terberat Harianto: Memilih Persik Atau Dianggap Pengkhianat oleh Aremania

Kesuksesan seseorang tak hanya murni hasil kerja keras. Tapi juga tergantung cara mengambil keputusan secara tepat untuk menentukan langkah berikutnya. Meskipun keputusan yang ditempuh mengandung risiko sangat berat. Itu yang dialami Harianto pada 2002 lalu. Dia mengalami dilema pelik saat harus memilih kelangsungan karirnya sebagai pesepak bola profesional. Dia memilih loyal kepada Iwan Budianto dengan ikut ke Persik Kediri atau dicap sebagai pecundang dan pengkhianat di mata Aremania.

Apalagi saat itu, Harianto sedang masuk era keemasannya. Selama empat musim sebelum 2002, gelandang ini pernah berbaju Mitra Surabaya, serta tiga klub besar Persebaya, Persija, dan Arema. Namun demi loyalitas dan membalas budi baik Iwan Budianto, Harianto memilih Persik yang saat itu masih berkiprah di Divisi I. Apalagi saat itu, nama dan prestasi Persik jelas kalah mengilap dibanding Persebaya, Persija, dan Arema.

“Hampir setahun saya berpikir keras, sebelum memutuskan menerima ajakan bos Iwan. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya gabung Persik. Padahal, saat itu saya sedang laku keras di klub-klub besar Indonesia,” ungkapnya.

Salah satu pertimbangan Harianto ke Persik, karena faktor kedekatan hubungan dengan sosok yang saat ini sebagai Waketum PSSI itu.

“Kami seperti keluarga. Saya punya utang budi dengan Pak Iwan yang saya tak bisa ungkapkan ke publik. Jadi saya harus membalas kebaikan itu. Kalau mau cari uang dan karier, saya bisa saja menolak ajakan gabung Persik,” katanya.

Akibat kedekatan itu, Harianto sempat dianggap sebagai ‘anak emas’ Iwan Budianto selama menjadi manajer Persik. Apalagi sosok yang akrab dipanggil IB itu mempercayakan ban kapten tim kepada Harianto. Dalam perjalanannya, loyalitas Harianto kepada Iwan Budianto itu berubah menjadi kesetiaan terhadap Persik. Tak salah bila Harianto menjadi salah satu legenda hidup Macan Putih.

Tetap Setia dan Nomer Punggung 12

Pria asal Gondanglegi, Kabupaten Malang, ini saksi hidup era kejayaan dan keruntuhan Persik di kancah sepakbola Indonesia. Dia pernah merasakan nikmatnya sebagai juara pada 2003 dan 2006. Namun Harianto juga mengalami masa pahit saat Persik terdegradasi pada 2009 dan bangkit lagi di kasta tertinggi ISL 2014.

“Perjalanan hidup saya lengkap. Pernah bangga jadi juara dua kali, meratapi degradasi, dan naik lagi ke ISL. Saya pernah punya penghasilan bagus dan gaji telat selama di Persik. Namun saya tetap memilih bertahan di Persik, saat bos IB meninggalkan klub ini,” ucapnya.

Meski punya jasa dan loyalitas, Harianto bukan sosok egois. Terutama soal ban kapten tim di Persik. Harianto pernah memberi kesempatan kepada beberapa pemain menjadi kapten tim, seperti Kusnul Yuli, Mahyadi Panggabean, Legimin Raharjo, Erol FX Iba, Hamka Hamzah, dan Fatchul Ichya.

Namun, sejak Persik berkiprah di Liga 2 2019, jersey bernomor punggung 12 milik Harianto tak boleh dipakai lagi oleh pemain lain. “Kami memasukkan jersey Harianto ke museum. Ini sebagai penghormatan atas jasa Harianto selama membela Persik,” kata Beny Kurniawan, Manajer Tim saat itu.

Cap Pengkhianat

Salah satu ujian berat yang dialami Harianto adalah cap sebagai pengkhianat yang dilekatkan publik Malang, karena dia menyeberang ke Persik bersama beberapa pemain seperti Johan Prasetyo, Suswanto, Kusnul Yuli, Siswantoro, Didit Thomas, Mecky Tata, dan Sukrian.

“Kami pemain, pelatih, dan bos IB dianggap pengkhianat. Kepindahan kami ke Kediri jadi bibit keretakan hubungan Persik dengan Arema. Tapi saya menilai label pengkhianat itu sebagai bukti, sebenarnya mereka (Aremania) mencintai kami. Mereka tak rela, kami keluar dari Arema. Alhamdulillah, kini semua angapan itu sudah sirna. Hubungan saya dengan Aremania sudah baik, seperti tak pernah ada masalah,” tuturnya.

Saat Persik juara Divisi Utama 2003, Walikota HA Maschut yang juga mertua Iwan Budianto memberi hadiah kepada para penggawa tim menjadi ASN di lingkup Pemkot Kediri.

Harianto dan beberapa orang asal Malang seperti Mecky Tata (asisten pelatih), Sukrian (pelatih kiper), Siswantoro, Didit Thomas, dan Kuncoro diangkat sebagai ASN. Yang menarik, ketika semua rekannya mutasi ASN ke Malang Raya, Harianto tetap memilih tinggal di Kediri.

“Saya bisa saja ikut teman-teman pindah ke Malang, karena saya saya juga asli Malang. Tapi saya sudah terlanjur jatuh cinta dengan Persik dan Kediri. Saya punya kenangan indah di klub dan kota ini yang tak terlupakan sepanjang hidup nanti,” ucapnya.