Arema Bersedia Liga 1 Dilanjutkan dengan Dua Syarat

Arema FC mengajukan syarat pada PSSI jika Liga 1 2020 dilanjutkan. Permintaan itu adalah perubahan nilai kontrak personel tim yang mencakup pelatih dan pemain.

Menurut General Manager Arema, Ruddy Widodo, ditetapkannya status force majeure karena pandemi COVID-19 di bidang sepak bola membuat segala hak dan kewajiban klub gugur. Kontrak pemain, pelatih, dan seluruh ofisial tim batal di mata hukum.

Akan tetapi, lanjut Ruddy, FIFA memberikan kelonggaran pada klub-klub untuk melakukan negosiasi ulang. Sebelum kompetisi dilanjutkan, kesepakatan soal ini sudah harus tercapai.

”FIFA meminta agar pihak klub dan pelatih, juga pemain bertemu, membahas ulang nilai kontrak. Harus mencapai titik temu, bahkan negosiasi itu bisa dilakukan maksimal tiga kali,” kata Ruddy, mengutip wearemania, Rabu (3/6/2020).

Ruddy mengatakan bahwa pengeluaran terbesar klub tentu pembayaran gaji. Berkaca dari anggaran pengeluaran, setidaknya manajemen Arema membutuhkan Rp2 miliar setiap bulannya untuk memenuhi hak pemain, pelatih, serta ofisial klub.

Ruddy menambahkan skema tersebut juga tak mungkin menemui jalan buntu. Tapi, jika pemain dan pelatih menolak, mereka tak bisa berkompetisi.

”Misalnya, tidak ada kata sepakat dengan pelatih kami (Mario Gomez, red), ya, statusnya sebagai pelatih pending. Pending dalam artian dia tak bisa melatih kami dan tidak bisa melatih tim lain. Dia hanya bisa melepas status tersebut menunggu instruksi FIFA,” kata pria asal Madiun tersebut.

Selain mengajukan perubahan nilai kontrak, manajemen ‘Singo Edan’ ini juga meminta dana distribusi tambahan pada PSSI. Sebab, PSSI menginstruksikan setiap pertandingan Liga 1 harus digelar tanpa penonton.

Ruddy menuturkan, ketiadaan penonton akan memberatkan Arema. Sebab, salah satu sumber pemasukan terbesar klub berasal dari tiket penonton.

Jika kompetisi dilanjutkan, Ruddy memprediksi bahwa dalam tiga bulan pertama stadion tidak akan penuh oleh suporter. Salah satunya karena faktor protokol kesehatan yang mengatur kapasitas stadion tidak bisa dimaksimalkan.

”Selain itu, sekarang ini kondisi ekonomi masyarakat tengah terpuruk karena pandemi. Kemudian pasti ada ketakutan pula di hati suporter untuk masuk stadion di tengah pandemi. Padahal, sektor tiket ini menjadi salah satu sumber pendapatan klub, termasuk Arema,” kata Ruddy.