Tommy Welly: Nasib Kompetisi Tak Cuma Bergantung pada PSSI

Pengamat sepakbola, Tommy Welly, berharap keputusan PSSI nantinya bukan hanya berdasarkan kepentingan unsur sepakbola. Masalah kesehatan dan keselamatan di tengah pandemi virus Corona harus jadi pertimbangan utama.

Ada indikasi kompetisi dilanjutkan atau diganti dengan turnamen. Jika skenario itu dipilih, Tommy Welly mengingatkan PSSI untuk menyiapkan protokoler ketat.

“Harus ada pernyataan resmi dari negara dulu tentang kondisi COVID-19 ini seperti apa. Jadi, keputusan tentang kompetisi nggak bisa atas dasar sporting atau sepakbola saja. Karena penyebabnya kan pandemi,” kata Tommy Welly kepada detikSport.

“Kalau jadi turnamen, jangan sampai klub diklaim juara musim sekian. Semua harus clear dulu dong. Alasannya apa kalau dilanjut, menggelar turnamen juga bahaya,” ujarnya berpesan.

Ia juga mengamati kurva penyebaran virus Corona di Indonesia yang kian memburuk. Malahan sempat terjadi lonjakan kasus positif baru yang mencapai kurang lebih 1.000 kasus dalam satu hari belum lama ini.

Berkaca ke Vietnam dan Korea Selatan, kompetisi sepakbola baru digulirkan lagi di saat kondisi mulai membaik. Sementara Indonesia punya kondisi yang jauh berbeda dengan kedua negara itu.

“Intinya kompetisi sepakbola nggak bisa berdiri sendiri. Apakah benar sudah tuntas persoalan penyelesaian ini? Kalau nanti dipaksakan pertandingan sepakbola, apa bisa mengikuti protokol yang seharusnya,” tutur Bung Towel.

Ia berpesan kepada PSSI untuk punya sikap di hadapan klub. Jangan menggelar pertemuan dengan klub untuk mendengar pendapat mereka saja.

Setidaknya indikasi itu terlihat dalam virtual meeting PSSI dengan para klub pekan lalu. PSSI juga sudah menyempatkan bertemu perwakilan pemain dan pelatih sebelum jumpa klub.

Diamatinya, bahwa keputusan PSSI saat ini baru sekadar ke unsur tertentu seperti sepakbola dan bisnis. Itu masih jauh dari kata ideal jika berkaca ke liga-liga internasional yang sudah memulai lagi kompetisinya seperti Korea Selatan, Jerman, hingga Vietnam.

“Begini, anda klub dan saya PSSI. Saya (PSSI) berhubungan dengan pemerintah entah itu Kemenpora atau KONI untuk mengetahui situasi COVID-19. Katakan prediksi Juni atau Juli optimistis sudah selesai. Jadi saat bicara dengan klub-klub, PSSI sebagai otoritas pemilik sepakbola, maka dia berkomunikasi menyampaikan opsi,” tuturnya.

“Jika Juni atau Juli selesai posisi COVID-19, olahraga bisa digelar lagi. Maka Agustus kita selenggarakan (kompetisi) lagi, katakanlah begitu. Agustus dengan skema ‘ini’ karena ada keterbatas waktu,” ucapnya.

Harus ada ketegasan sikap dari PSSI kepada klub terkait keputusannya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang ada. Sejauh ini belum ada keputusan dari PSSI.

Rencananya PSSI akan bertemu lagi dengan klub-klub Liga 1 dan Liga 2 2020, Selasa (2/6/2020). Setelahnya PSSI berjanji akan segera menggelar rapat Komite Eksekutif (Exco) untuk mengambil keputusan.

“PSSI harus bisa menyatakan, misalnya tak bisa melaksanakan kompetisi, yang artinya tahun ini ditiadakan. Bukan bertatap muka jajak pendapat, tapi PSSI-nya kosong, gitu loh.”

“Jadi saat berkomunikasi, dia (PSSI) sudah punya opsi seandainya COVID-19 selesai, maka lanjut atau tidak lanjut. Kemarin klub kan menyatakan keberatan dan itu hampir lebih 50 persen,” ucapnya.

(cas/krs)