Dukungan Orang Tua Jadi Kunci Sukses Gelandang Bhayangkara FC

Gelandang Bhayangkara FC, Teuku Muhammad Ichsan merasa dukungan orang tua menjadi kunci sukses bagi dirinya hingga sampai di titik yang seperti sekarang.

Teuku Muhammad Ichsan tergabung dengan Bhayangkara FC sejak musim 2017.

Bersama Bhayangkara FC, TM Ichsan sudah mencicipi satu gelar juara Liga 1 pada musim 2017.

Saat itu Bhayangkara FC masih dilatih oleh Simon McMenemy.

Penampilan apik TM Ichsan saat di Bhayangkara FC membuahkan hasil lantaran ia mendapatkan kesempatan untuk membela Timnas Indonesia.

TM Ichsan mendapatkan kesempatan debut bersama timnas Indonesia saat masih di bawah asuhan Simon McMenemy.

TM Ichsan melakoni debutnya bersama timnas Indonesia saat bertanding di kualifikasi Piala Dunia Qatar 2022 Zona Asia.

Namun debutnya bersama timnas Indonesia tidak berjalan manis.

Timnas Indonesia harus mengakui keunggulan dari Malaysia dengan hasil akhir 2-0 pada 19 November 2019.

TM Ichsan mengatakan, perjalanan karirnya hingga sekarang tidak terlepas dari dukungan orang tuanya.

“Dukungan orang tua adalah yang paling utama,” kata TM Ichsan seperti dilansir dari situs resmi Bhayangkara FC.

“Bisa dibilang mereka sangat berjasa karena tanpa dukungan mareka, tidak mungkin saya hari ini bisa seperti ini,” tambah pemain berusia 22 tahun.

Lebih lanjut, selama berseragam Bhayangkara FC, TM Ichsan cukup dengan dengan rekan setimnya asal Korea Selatan.

“Lee Yoo-joon, mungkin karena sudah saling mengenal dan tahu, karena sudah lama dengan dia dari 2017,” ujar pemain asal Aceh.

Pada gelaran Liga 1 2020, TM Ichsan selalu menjadi pilihan utama Bhayangkara FC.

TM Ichsan mampu tampil sebanyak tiga pertandingan bersama Bhayangkara FC di Liga 1 2020.

Namun perjalanan TM Ichsan bersama Bhayangkara FC di Liga 1 2020 harus terhenti karena PSSI memutuskan untuk menangguhkan kompetisi sementara imbas pandemi COVID-19 sampai 29 Mei.

Namun, hingga saat ini PSSI juga belum memutuskan apakah Liga 1 dan Liga 2 dapat kembali bergulir.

Pemain kelahiran 25 November 1997 itu memilih pulang kampung ke Aceh sejak kompetisi dihentikan.