Melatih Timnas Indonesia, Satu di Antara Pekerjaan Paling Sulit di Asia

Mau tahu apa pekerjaan tersulit di Asia? Jika pertanyaan tersebut ditujukan kepada Simon McMememy, menjadi pelatih Timnas Indonesia adalah satu di antaranya.

Sembilan tahun sudah Simon menekuni profesi sebagai pelatih. Dimulai ketika ia menangani Timnas Filipina pada 2010 silam. Teraktual, pria berusia 42 tahun ini dipecat dari posisinya di Timnas Indonesia pada November 2019.

Suka, duka, manis, pahit, getir, dan gembira, pernah dilalui Simon sebagai peracik strategi sebuah kesebelasan. Ia pernah membuat sepak bola Filipina bergairah setelah mengantar Timnas Filipina ke semifinal Piala AFF 2010. Ia juga sempat dua kali dipecat di level klub ketika menangani Mitra Kukar pada 2012 dan Pelita Bandung Raya (PBR) pada 2013.

Namanya pernah diagung-agungkan setelah membawa Bhayangkara FC ke tangga juara Liga 1. Ketika ditunjuk sebagai pengganti Luis Milla di Timnas Indonesia pada 2019, seharusnya raihan itu menjadi puncak karier kepelatihan Simon. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Simon dicap gagal setelah Timnas Indonesia mengalami lima kekalahan beruntun di Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia yang berujung pemecatan kepadanya.

“Saya rasa satu di antara pekerjaan paling sulit di Asia itu melatih Timnas Indonesia. Apalagi buat mereka yang tahu soal sepak bola di luar karena semua orang tahu Indonesia itu besar. Punya banyak talenta, tapi ada banyak juga masalah yang ikut bersamanya. Jadi ini bukan satu di antara pekerjaan tersulit di Indonesia, tapi di Asia tanpa bayangan keraguan,” kata Simon dalam wawancaranya di YouTube BangBes.

“Tantangan besar saat itu. Dan saya rasa Anda harus mencoba mengerti Indonesia atau budaya Indonesia jika ingin sukses. Ketika saya dipecat dua kali oleh Mitra Kukar dan PBR, sebelum saya akhirnya kembali dengan sukses menjuarai kompetisi.”

“Jadi saya harus gagal dua kali untuk sukses. Tapi ketika kamu sudah mengerti apa yang ada di sekitarmu, apa yang bisa kamu kontrol dan tidak. Ketika membawa pelatih asing bukan jawaban. Karena mereka kadang tidak tahu semua permasalahan yang di satu titik akan menjadi masalah mereka,” imbuh Simon.

Keluh Kesah Simon McMenemy

Simon memulai debutnya sebagai pelatih Timnas Indonesia dengan hasil positif. Andritany Ardhiyasa dkk mampu dibawanya mengalahkan Myanmar di markas lawan pada partai uji coba, Maret 2019.

Timnas Indonesia lalu kalah 1-4 dari Yordania dan menang 6-0 atas Vanuatu, masih dalam pertandingan persahabatan. Hanya saja ketika mengarungi Kualifikasi Piala Dunia 2022 Zona Asia, tim berjulukan Skuat Garuda ini tidak berdaya.

Saat Timnas Indonesia kalah dua kali di kandang dari Malaysia 2-3 dan 0-3 dari Thailand, suporter mulai mencemooh Simon. Permintaan untuk menuntutnya mundur perlahan berkumandang.

“Anda tahu saya datang dari dua musim yang bagus bersama Bhayangkara FC. Saya dapat dukungan dari banyak pemain. Mereka sangat mendukung. Ini tantangan yang besar. Anda tidak bisa ketika kerja di Indonesia dan tidak merasakan semangat dari suporter. Tidak merasakan mereka di belakangmu saat mendukung atau melawanmu sama saja. Kamu bisa merasakan semangatnya. Dan ingin menjadi bagian dari itu. Dan sejujurnya saya ingin membuat perbedaan,” jelas Simon.

“Saya sangat ingin membuat Timnas Indonesia lebih baik. Saya punya beberapa ide yang bisa membantu. Hal yang mungkin berbeda dengan pelatih sebelum-sebelumnya. Tapi, Anda tahu. Bisa terjadi bisa juga tidak. Anda ke sana dengan niat terbaikmu untuk melakukan perbaikan. Namun kadang tidak berjalan sesuai rencana,” ucapnya.