Bos PSIS Semarang: Pembatasan Fisik Bikin Sepakbola Tak Asyik Ditonton

CEO PSIS Semarang, AS Sukawijaya, pihaknya hanya menginginkan pertandingan sepakbola berjalan normal, meski pemerintah dalam waktu dekat akan menerapkan tatanan kehidupan baru.

Menurut Sukawijaya, jika Liga 1 dipaksakan bergulir di tengah jumlah orang yang terkena virus Corona belum mengalami penurunan, ia mengkhawatirkan kompetisi sepakbola kasta tertinggi di Indonesia ini kembali berhenti.

“Kami senang, kami siap mau bermain lagi. Tapi kami hanya minta semua kembali normal dulu. Normalnya bukan setengah normal, bukan abnormal, tapi benar-benar normal,” tegas pria yang akrab disapa Yoyok itu dalam live Instagram bersama Suara Merdeka.

“Artinya benar-benar normal itu, orang pergi dengan bebas, tidak perlu memakai masker, bisa nonton bareng ke stadion, atau dengan pacarnya. Kalau di stadion pakai physical distancing kan tidak asyik nonton bolanya.”

PSIS merupakan salah satu klub yang menolak Liga 1 2020 dilanjutkan, karena mempunyai risiko lebih besar. Mahesa Jenar merekomendasikan agar PSSI menggelar turnamen yang dianggap lebih aman, karena tersentralisasi.

Selain itu, Yoyok menilai kebijakan setiap daerah dalam menanggulangi penyebaran virus Corona akan berbeda. Ia meyakini tidak akan mudah mendapatkan izin yang berpotensi mendatangkan masa dalam jumlah besar.

“Di kondisi normal saja kami tidak mudah mengurus protokol keamanan, apalagi sekarang ada protokol kesehatan. Karena itu, kami minta semua clear dulu. Jika satu pemain [PSIS] saja terkena COVID, satu tim akan dikarantina. Lalu bagaimana? Masak kami tidak boleh main, terus degradasi?” tanya Yoyok.

“Kalau mau dipaksakan di kondisi seperti ini, kami minta kompetisi diganti dengan home tournament. Kalau turnamen, semua bisa terpusat, bukan home and away. Itu akan mudah diawasi, dan lebih aman.”