Klub Liga 1 Harus Lakukan Test Covid-19 Dulu Jika Kompetisi Berlanjut

Kejelasan status kompetisi Liga 1 2020 bergulir kembali atau tidak di tengah pandemi Covid-19 masih dibicarakan.

Dari 18 klub, sebanyak 11 tim memutuskan untuk tidak ingin melanjutkan kompetisi Liga 1 2020 yakni Madura United, Persebaya Surabaya, PSIS Semarang, PSM Makassar, Barito Putra, Persita Tangerang, Persela Lamongan, Bhayangkara FC, Persija Jakarta, Persik Kediri, dan PSS Sleman.

Berbeda dengan yang lain, enam klub ingin Liga 1 2020 kembali dilanjutkan yakni Bali United, Persib Bandung, Tira Persikabo, Borneo FC, Persiraja Banda Aceh, dan Arema FC.

Hanya Persipura Jayapura saja yang memilih abstain dan mengikuti keputusan dari PSSI.

Jika nantinya PSSI memutuskan untuk tetap melanjutkan kompetisi Liga 1 2020, maka klub-klub yang tidak ingin berpartisipasi meminta protokol kesehatan sangat ketat.

Sebab, pandemi virus corona di Indonesia masih belum melandai dan jauh dari kata menurun.

Klub-klub yang tidak ingin melanjutkan Liga 1 2020 berkaca dari Jerman dan Korea Selatan.

Kedua negara itu melakukan protokol kesehatan yang sangat ketat untuk mempertandingan kompetisi di tengah pandemi virus corona.

Sama halnya dengan Inggris, dimana setiap klub wajib melakukan test Covid-19 sebelum menggulirkan kembali Premier League 2020.

Dari hasil tersebut diputuskan bahwa Premier League 2020 kembali dilanjutkan pada 17 Juni mendatang.

Hal yang sama juga diutarakan oleh dokter timnas Indonesia, Syarif Alwi.

Saat dihubungi awak media, Syarif Alwi meminta klub-klub Liga 1 2020 melakukan test Covid-19 kepada pemain dan offisial tim sebelum terjun ke kompetisi.

Tak hanya klub, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) juga harus melakukan test Covid-19.

Diharapkan dari test Covid-19 itu, tidak ada yang positif sehingga Liga 1 2020 bisa bergulir kembali dengan aman.

“Pastikan semua peserta dan perangkat pertandingan sudah melakukan test Covid-19 dan hasilnya negatif,” kata Syarif Alwi.

Syarif Alwi yakin klub Liga 1 2020, PSSI, dan PT LIB bisa melakukan test Covid-19 meskipun harganya cukup mahal.

Ia menyebutkan untuk sekali test saja dihargai Rp 300 sampai Rp 950 ribu.

Contoh setiap klub memiliki 50 orang termasuk jajaran manajemen, pemain, dan offisial tim, yang melakukan test Covid-19 seharga Rp 950 ribu.

Artinya setiap tim harus mengeluarkan uang sekitar Rp 50 juta.

“Handicap pembiayaan satu orang paling murah Rp 950 ribu. Kalau untuk rapid test Rp 300 ribu,” ucap Syarif Alwi.

Lebih lanjut Syarif Alwi berharap setiap offisial tim, pemain, dan perangkat pertandingan datang ke stadion dengan menggunakan masker.

Di dalam bus pemain juga harus dibatasi menjadi setengah kapasitas.

Alat-alat latihan milik klub juga harus disemprotkan cairan disinfektan.

Kebersihan ruang ganti juga harus dipikirkan oleh pengelola stadion.

“Kebersihan ruang ganti, air cuci tangan, sabun, hand sanitizer, tempat sampah, itu harus disiapkan untuk menunjang.”

“Kapasitas bus juga harus dikurangi. Misalnya ada 50 kursi, jadi di dalam bus hanya 25 orang. Berarti klub juga harus menyiapkan bus lebih dari satu.”

“Ruang ganti juga harusnya lebih besar supaya bisa jaga jarak. Handuk pemain satu kali pakai. Gelas disposible sekali minum buang. Botol minum kasih nama,” tutup Syarif Alwi.