Kisah PSM di Era Emas 2000-2001: Raja Asia Tenggara dan Tembus 8 Besar Liga Champions Asia

PSM Makassar pernah mengalami masa emas di era Liga Indonesia. Setelah meraih trofi juara pada musim 1999-2000, Juku Eja menjelma menjadi tim yang disegani. Bukan hanya di Indonesia tapi juga di mancanegara.

Khususnya di kawasan Asia Tenggara ketika Bima Sakti dan kawan-kawan jadi wakil Indonesia di pentas Liga Champions Asia 2001. Tergabung di Wilayah Timur, PSM melangkah sampai perempat final di kompetisi tertinggi di Asia ini.

Menghadapi klub asal Vietnam di babak pertama, Song Lam Nghe An, PSM Makassar sempat ditahan imbang tanpa gol di Stadion Andi Mattalatta Matoangin. Namun, pada pertemuan kedua di kandang lawan, Juku Eja tampil perkasa untuk memenangkan pertandingan dengan skor 4-1.

PSM lolos ke babak selanjutnya dengan agregat gol 4-1. Di babak kedua, PSM ditantang klub Asia Tenggara lainnya, Royal Thai Air Force (Thailand). Dalam dua kali pertemuan kandang-tandang, Juku Eja menang 6-1 dan 5-0.

Hasil ini menjadikan satu-satunya klub Asia Tenggara yang meraih tiket perempat final. Pencapaian skuat asuhan Syamsuddin Umar terbilang lumayan, karena pada waktu bersamaan mereka juga berjibaku untuk mempertahankan gelannya di Liga Indonesia.

Di 8 Besar atau semifinal Zona Asia Timur, AFC mempercayakan PSM menjadi tuan rumah di Stadion Andi Mattalatta Mattoangin. Sebagai tuan rumah, PSM diharuskan melakukan perbaikan fasilitas stadion agar memenuhi syarat.

Manajemen PSM yang dikendalikan duet bersaudara, Nurdin Halid dan Kadir Halid menjawab tantangan itu. Kapasitas penerangan lampu stadion diperbesar dengan menambah belasan titik diatas tribune tertutup.

Rumput lapangan pun dibenahi. Fasilitas pendukung seperti ruang ganti pemain, toilet dan lain-lain juga diperbaiki. Alhasil Stadion Andi Mattalatta Mattoangin (AMM) jauh lebih dibandingkan saat berdiri pada 1957.

Tak hanya Stadion AMM, Lapangan Karebosi yang dijadikan lokasi latihan tim pun tak luput dari pembenahan sesuai standar AFC. Apalagi, tim yang datang ke Makassar adalah klub papan atas di Asia yakni Suwon Bluewings (Korea Selatan), Jubilo Iwata (Jepang) dan Shandong Luneng (China). Alhasil, saat itu, Makassar dan PSM menjadi sorotan publik sepakbola Asia.

Gagal Raih Poin di Makassar

Sejatinya, PSM sudah melakukan persiapan yang lumayan baik menghadapi jadwal padat di Liga Champions Asia dan Liga Indonesia. Selain mempertahankan mayoritas materi pemain yang meraih trofi juara pada Liga Indonesia 1999-2000, Juku Eja menambahkan kekuatan dengan mendatangkan Fouda Ntsama (Kamerun), Alexander Pulalo, Budiman dan Suwandi HS.

Hanya level permainan tim lawan di semifinal Zona Asia Timur memang lebih baik. Memakai sistem home tournament dengan setiap klub bertanding tiga kali dalam lima hari, 21-25 Maret 2001, PSM gagal meraih satu poin pun.

Masing-masing dtekuk Shandong Luneng 1-3, kalah telak 1-8 dari Suwon Bluewings dan tumbang tiga gol tanpa balas dari Jubilo Iwata.

Dalam buku biografinya,’Bola Itu Bundar’, Syamsuddin mengaku PSM kalah kualitas dibandingkan tiga pesaingnya itu. Menurut Syamsuddin, selain materi pemain yang lebih baik, persiapan mereka pun lebih tertata.

“Saya sempat berdiskusi dengan pelatih salah satu tim soal bagaimana mereka mempersiapkan diri. Pelatih itu blak-blakan menjelaskan. Termasuk besaran gaji dan bonus yang disiapkan kepada pemain. Harga memang tak pernah bohong,” kata Syamsuddin.

Terbukti dua tim dari zona ini, Suwon Bluewings dan Jubilo Iwata lolos ke partai puncak. Suwon akhirnya keluar sebagai juara setelah mengalahkan Jubilo dengan skor 1-0 pada laga final yang berlangsung di Suwon Sports Complex, 26 Mei 2001.

Gol tunggal kemenangan Suwon dicetak oleh striker asal Brasil, Sandro Cardoso dimenit ke-15.Selepas kegagalan di perempat final Liga Champions Asia, PSM mengukuhkan diri sebagai tim kuat di Asia Tenggara. Pada turnamen Piala Ho Chi Minh City, 10-18 Agustus, Juku Eja meraih trofi juara setelah mengalahkan Ho Chi Minh XI 1-0 pada laga final, 18 Agustus 2001.

Daftar Pemain PSM Di Liga Champions Asia 2001
Kiper: Hendro Kartiko, Ansar Abdullah, Listanto Raharjo;

Belakang: Ortisan Solossa, Budiman, Rony Ririn, Syamsudin Batolla, Suwandi HS, Zain Batolla, Yosep Lewono, Alibaba, Jufri Samad;

Tengah: Yuniarto Budi, Bima Sakti, Carlos de Mello, Hariansyah, Yusrifar Jafar

Depan: Miro Baldo Bento, Rachman Usman, Kurniawan Dwi Yulianto, Iswadi, Fouda Ntsama