Piala Jusuf, Ajang Sepak Bola Bergengsi di Makassar yang Terlupakan

Pentas sepak bola Indonesia pernah diwarnai sejumlah turnamen bergengsi yang digelar klub eks Perserikatan, di antaranya Piala Jusuf (PSM Makassar), Piala Marah Halim (PSMS Medan), Piala Tugu Muda (PSIS Semarang), dan Piala Siliwangi (Persib Bandung). Dari keempat turnamen ini, Piala Jusuf adalah ajang tertua yang pertama kali digelar pada 1964.

Piala Jusuf diinsiasi oleh M. Jusuf yang saat itu menjadi Panglima Kodam XIV/Hasanuddin. Selain dikenal penggila bola, Jusuf menilai sepak bola bisa jadi ajang pemersatu rakyat di tengah belum stabilnya kondisi politik dan ekonomi di Sulawesi Selatan kala itu.

Apalagi, prestasi PSM Makassar memang mentereng di pentas sepak bola tanah air. Juku Eja bukan hanya menjadi ‘Raja Perserikatan’ era 1950-an dan 1960-an, tapi penyuplai pemain buat tim nasional Indonesia.

Sejak pertama kali gelar pada 1964 dan terakhir pada 2007, PSM tercatat tujuh kali meraih trofi juara Piala Jusuf. Turnamen di Stadion Mattoangin ini bukan hanya menghadirkan tim-tim besar Indonesia ke Makassar, tapi juga dari luar negeri.

Pada 1984, Piala Jusuf diikuti oleh tim nasional Brunei Darussalam dan Singapura. Saat itu, PSM keluar sebagai juara setelah mengalahkan Makassar Utama 1-0 di laga final.

Meski jadi langganan juara, PSM bukan menjadi tim terakhir yang berjaya di ajang ini. Pada 2007, Juku Eja gagal mempertahankan trofi juara yang mereka raih pada 1999. Dalam laga final yang berlangsung di Stadion Andi Mattalatta pada 14 Januari 2007, PSM ditekuk Persita Tangerang 0-1 lewat gol tunggal Esaiah Benson pada menit ke-73.

Seperti Piala Marah Halim, Piala Tugu Muda dan Piala Siliwangi, setelah 2007 Piala Jusuf tak lagi pernah digelar. Waktu persiapan klub jelang awal musim yang mepet plus adanya turnamen lain seperti Piala Presiden membuat Piala Jusuf terlupakan.

Malah pada 2018, PSM sempat menggelar turnamen di Makassar, tapi labelnya Piala Super Asia bukan Piala Jusuf. Pada ajang yang diikuti oleh Ministry of National Defence FC (Kamboja), Home United (Singapura) dan Adelaide United (Australia), PSM keluar sebagai juara. Dalam laga final, Juku Eja mengalahkan MND FC 3-0 lewat gol Guy Junior, Willem Jan Pluim dan Bruce Djite.

Gengsi Piala Jusuf
Meski hanya berstatus turnamen, gengsi Piala Jusuf tidak kalah dengan kejuaraan resmi PSSI. Alasannya, tim yang datang ke Makassar merupakan tim terbaik di tanah air.

Tercatat tim seperti Persib Bandung, PSMS Medan, Persija Jakarta, dan Persebaya Surabaya rutin menjadi peserta turnamen. Selain itu ada juga Persipura Jayapura, Persema Malang, Persita Tangerang, Persipal Palu, dan Persikota Tangerang pernah berpartisipasi.

“Bagi kami, membawa PSM meraih juara di Piala Jusuf sama saja gengsinya dengan meraih trofi juara Perserikatan,” ungkap Keng Wie alias Budi Wijaya, bek Juku Eja yang menjadi bagian skuat juara pada edisi 1967.

Hal senada dikatakan Syamsuddin Umar yang membawa PSM juara pada 1979. Dalam laga final, PSM yang dilatih Ilyas Haddade menang 2-0 atas Persib.

“Atmosfernya sama saja seperti di Senayan. Apalagi kami bermain di hadapan pendukung sendiri,” kenang Syamsuddin di buku biografinya, ‘Bola itu Bundar’.

Syamsuddin tak bisa melupakan kenangan pada Jusuf Cup 1984. Dalam edisi itu, ia bermain untuk Makassar Utama bersaing dengan PSM, Persija, Persib, Persebaya, Persipura, Brunei dan Singapura untuk meraih trofi juara.

“Makassar Utama dan PSM akhirnya berlaga di final. Saat itu, saya dalam posisi sulit, Jusuf Kalla sebagai pemilik klub mewanti-wanti kami harus mengalahkan PSM. Padahal, manajer PSM saat itu adalah Mansyur Sultan, Kepala Dispenda Sulsel, tempat saya bekerja sebagai PNS,” terang Syamsuddin di bukunya.

PSM akkhirnya keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan Makassar Utama dengan skor tipis 1-0. (bola.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.