Insiden saat Dukung PSIS di Stadion Manahan pada 2000 Jadi Pengalaman Tak Terlupakan Sesepuh Panser Biru

Kesetiaan dan militansi suporter sepak bola di Indonesia untuk mendukung tim kebanggaannya, termasuk PSIS Semarang, tidak terbantahkan lagi. Termasuk ketika mendukung langsung di markas tim rival menjadi kebanggaan tersendiri.

Menempuh jarak yang cukup jauh dan menghadapi teror dari penonton lawan, sudah biasa dihadapi. Tidak hanya menyaksikan tim yang didukungnya kalah, kadang masih mendapat tindakan anarkis dari oknum suporter lawan.

Banyak kenangan yang begitu sulit dilupakan, baik suka maupun duka berkunjung ke kandang klub rival. Seperti yang dialami satu diantara sesepuh suporter PSIS Semarang Panser Biru, Irawan Sulistyo berkisah mengenai pengalaman yang tak akan dilupakannya.

Insiden itu terjadi pada Liga Bank Mandiri musim 2000. Saat PSIS Semarang menyambangi markas Pelita Solo dalam laga sangat menentukan. Tuan rumah Pelita Solo sudah mengamankan posisi lolos ke babak delapan besar, sementara PSIS membutuhkan poin demi menghindari lubang degradasi.

Namun tim Mahesa Jenar yang saat itu berstatus juara bertahan dengan trofi musim 1999, menelan kekalahan di Solo dan harus turun kasta ke Divisi I. Alhasil bentrokan suporter Solo dan Semarang pecah setelah pertandingan tersebut.

“Saat itu kami datang dengan jumlah lebih dari seribu anggota. Imbang saja kita lolos dari degradasi, eh kok tidak dikasih. Kami semua jengkel dan terjadi keributan,” cerita Irawan Sulistyo kepada Bola.com, Senin (4/5/2020).

“Mereka (Pasoepati) sudah terbentuk sehingga bisa dikoordinir. Ada kata diobong-diobong (dibakar-dibakar), kita seperti ditantang, biasa namanya psywar. Kericuhan juga merembet ke pemain,” tuturnya.

Faktor Kekecewaan

Keributan suporter membuat fans PSIS mencopoti bangku tribune penonton, unttuk pelindung diri dari aksi lemparan batu dan benda lainnya. Beberapa kendaraan bermotor di luar stadion pun ikut dilalap si jago merah.

Bahkan ribuan suporter dan para pemain PSIS terkurung di dalam Stadion Manahan sampai dini hari sekitar pukul 02.00 dini hari. Pria yang akrab disapa Londo tersebut mengaku baru bisa pulang ke rumahnya di Semarang pada pukul 06.00 pagi.

“Semakin malam kok semakin mencekam, meski saya masih sempat bisa keluar beli nasi kucing. Semua dikumpulkan di tengah lapangan, sementara pemain PSIS di ruang ganti sampai dini hari,” bebernya.

“Mungkin karena faktor keekecewaan, pemain saya lihat juga jengkel, karena butuh hasil seri saja kok tidak bisa, akhirnya meluap emosinya. Agung Setyabudi sampai bawa balok dan Komang Putra juga sempat memukul suporter yang turun mengambil spanduk suporter PSIS,” kenangnya.

Kenangan Masa Lalu
Irawan menambahkan jika peristiwa tersebut menjadi bagian masa lalu dalam dunia suporter di Indonesia. Menjadi proses ketika sebagian kelompok suporter belum mewadahi para anggota dan minim koordinasi.

“Tapi dari peristiwa di Solo tahun itu menjadi momentum lahirnya Panser Biru beberapa saat kemudian. Kami melihat suporter Solo yang kompak dan dapat dikoordinir, kenapa Semarang tidak? Dari situlah lahirnya Panser Biru sampai sekarang ini,” ujar salah satu pendiri kelompok suporter Panser Biru ini.

Pihaknya menilai dalam perkembangannya para suporter sepak bola Indonesia berangsur membaik dan relatif lebih dewasa. Kreativitas lebih ditonjolkan ketimbang harus berkelahi dan bertindak anarkis.

“Sekarang ini yang saya sayangkan adanya opini blok-blokan antarsuporter. Jadi malah seperti anak kecil. Okelah punya rival suporter, tapi tidak perlu mengejek suporter lain,” tegasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.