Resep Pura-pura Gila Yanto Basna untuk Hadapi Kendala Bahasa

Yanto Basna membagikan pendapatnya mengenai pentingnya penguasaan bahasa asing bagi pemain lokal yang berkiprah di negara lain.

Umumnya, sebelum go Internasional, seorang pemain minimal harus bisa berbahasa Inggris untuk memudahkan komunikasi di dalam tim.

Namun, bek yang sedang menjalani musim ketiga di kompetisi Thailand tersebut memiliki pandangannya sendiri.

Dia mengatakan Bahasa Inggris tersebut memang penting, namun yang paling penting adalah mental dan komitmen pemain itu sendiri.

“Bahasa Inggris kalau menurut saya penting, tetapi yang paling penting adalah mental.

“Maksudnya, kendala di manapun kita berada, bahasa apapun kita bisa belajar dan beradaptasi. Tetapi yang paling penting bagaimana kita mau bejuang dan berkomitmen,” kata pemain PT Prachuap FC tersebut.

Yanto Basna bercerita, saat pertama kali menginjakan kaki di kompetisi Thailand, bahasa Inggrisnya cuma 20 persen saja.

Sementara itu, Bahasa Thailand-nya nol besar karena belum pernah dipelajari sama sekali.

Namun, dia tidak pernah malu untuk mencoba. Meskipun hingga saat ini masih kesulitan berkomunikasi berbahasa Thailand.

Sedikit banyak dia sudah mulai memahami pelatih dan rekan-rekannya yang mayoritas berbahasa Thailand.

“Jadi saya pertama kali datang ke sini pelatih marah-marah masalah posisi saya tidak tahu, iya-iya saja,” ucap pemain kelahiran Sorong, 12 Juni 1995.

“Saya mulai mengerti, pakai feeling dan sedikit-sedikit mempelajari, intinya dengan siapa saja dengan orang baru harus pandai-pandai beradaptasi.”

Untuk bisa memangkas kendala bahasa, Yanto Basna mengatakan harus pura-pura gila terlebih dahulu.

Pura-pura gila dalam artian berani mencoba, tidak takut salah, dan harus kebal rasa malu. Tentu untuk melakukannya dibutuhkan mental yang kuat.

“Jadi untuk bahasa menurut saya sebagai pelenggkap saja, dengan sendirinya kita akan bisa, yang penting harus berani mengambil langkah,” tutur mantan pemain Mitra Kukar itu.

“Makanya, kalau saya pribadi mau bahasa Inggris setengah-setengah, kalau bisa sampai ke Arab ya mau tidak mau harus belajar bahasa Arab. Jadi pura-pura gila saja dulu,” ucap Yanto.