Kompetisi Internal Persebaya, Arena Pendidikan Pemain Top Indonesia

Persebaya Surabaya tidak pernah kehabisan pemain bertalenta untuk mengarungi kompetisi tanah air. Dari 28 pemain musim ini, sebanyak sepuluh di antaranya adalah pemain binaan sendiri.

Mereka adalah Angga Saputra, Hansamu Yama Pranata, Rizky Ridho, Koko Ari Araya, Mokhamad Syaifuddin, Abu Rizal Maulana, Rachmat Irianto, Zulfikar Akhmad, Rendi Irwan, hingga Oktafianus Fernando.

Nama-nama itu pernah menjalani pendidikan dan pelatihan di kawah candradimuka dengan tajuk kompetisi internal Persebaya.

Para pemain tersebut merupakan hasil tempaan kompetisi internal Persebaya Surabaya yang telah berlangsung sejak era Perserikatan. Belum ada catatan pasti sejak kapan klub berjulukan Bajul Ijo memulai mengadakan kompetisi internal tersebut.

Model pembinaan seperti ini sebenarnya adalah warisan perkumpulan sepak bola di bawah penjajahan Belanda. Klub-klub macam Persija Jakarta dan Persib Bandung pun juga memiliki kompetisi internal.

Bedanya, Persebaya masih mempertahankannya hingga sekarang, di saat klub-klub lain mendirikan akademi sepak bola atau program sejenis diklat (pendidikan dan pelatihan). Kompetisi internal Persebaya digelar setiap tahun.

“Kami memiliki 20 klub yang tergabung sebagai anggota Persebaya. Sistemnya menggunakan kompetisi penuh. Tapi, jumlah itu dibagi dua grup, jadi masing-masing terdapat 10 klub,” kata Saleh Hanifah, Direktur Amatir Persebaya, kepada Bola.com.

Sebanyak 20 klub itu di antaranya adalah Indonesia Muda, PSAL, Untag Rosita, Bintang Timur, Anak Bangsa, Putra Surabaya, Al Rayyan, Pelindo III, HBS, Haggana, El Faza, Putra Mars, Fatahillah 354, Semut Hitam, Bintang Angkasa, TEO, Maesa, Polda Jatim, Sasana Bhakti, dan Farfaza.

Jumlah ini mengalami perubahan saat terjadi dualisme pada 2013-2016. Beberapa klub memutuskan hengkang. Ada pula klub baru yang memutuskan menjadi anggota Persebaya Surabaya. Total 20 klub belum berubah sejak 2017 hingga sekarang.

Kompetisi Dirancang Berkasta

Pada musim 2017, pembagian dua grup ditujukan untuk membuat kompetisi bisa berjalan tanpa membutuhkan waktu yang lama. Maklum, mereka hanya menggunakan Lapangan Persebaya, Jl. Karanggayam No. 1, untuk menggelar seluruh pertandingan.

Memasuki musim 2018, kompetisi itu dirancang berkasta, seperti saat dulu digelar. Masing-masing klub lima besar Grup A dan Grup B akan masuk Seri A alias kasta pertama. Sisanya berada di kasta kedua dengan label Seri B.

Sistem kompetisi penuh ini memang sangat menguntungkan. Sebab, para pemain merasakan tempaan dan menambah pengalaman dalam sebuah ajang kompetitif. Mereka bisa belajar mendapat tekanan dan saling menunjukkan penampilan terbaiknya di klub masing-masing.

“Kami melanjutkan sistem yang sudah ada sebelumnya. Kalau ditanya apakah Persebaya punya SSB (Sekolah Sepak Bola), tentu ada. Kami punya sebanyak 20 klub, silakan pilih sendiri yang mana,” ungkap Azrul Ananda, Presiden Persebaya Surabaya.

Sistem perekrutan pemain pun sederhana. Masing-masing klub itu memiliki tim kelompok usia mulai U-12 hingga U-16. Biasanya, para pencari bakat masing-masing klub internal yang akan mengajak anak-anak untuk bergabung.

Para pemain klub internal Persebaya juga tidak terbatas pada anak-anak yang berdomisli di Surabaya. Bahkan ada pula yang berasal dari Malang, Pamekasan, Gresik, Sidoarjo, Jember, Pasuruan, hingga beberapa daerah Jawa Timur lainnya.

Sementara itu, di sisi lain, pertandingan kompetisi internal juga tidak pernah sepi meski dimainkan oleh para remaja. Selain para orang tua, pencari bakat untuk klub-klub Liga 2 dan Liga 3 biasanya menyaksikan penampilan para pemain, membuka peluang mendapatkan penggawa anyar.

Tak pernah ada sistem kelulusan pemain. Jika di usia muda sudah moncer, sangat mungkin pemain tersebut bergabung tim senior atau junior Persebaya. Jika tidak, klub lain bisa merekrutnya pada usia berapapun.

Pemain Berkualitas di Level Top

Dari sinilah, nama-nama beken bermunculan. Di era 1990-an, Uston Nawawi, Anang Ma’ruf, hingga Bejo Sugiantoro mendapat kesempatan menapaki karier profesional. Selain membela Persebaya Surabaya, ketiganya masuk PSSI Primavera.

Memasuki milenium baru hingga sekarang, sudah tak terhitung berapa banyak pemain yang telah merasakan tempaan kompetisi internal Persebaya. Beberapa di antaranya bahkan menjadi andalan Timnas Indonesia dan klub-klub Liga 1.

Bali United saja terdapat lima pemain, yaitu Samuel Reimas, Taufiq, Sidik Saimima, Hariono, dan Fahmi Al Ayyubi. Kemudian dua pemain Bhayangkara FC, Andik Vermansah dan Wahyu Subo Seto, pernah merasakan tempaan kompetisi itu.

Gelandang Timnas Indonesia, Evan Dimas, kini menjadi bagian dari Persija Jakarta adalah putra asli Surabaya yang jelas pernah dididik kompetisi internal Persebaya. Sementara di Madura United ada Slamet Nurcahyo dan Andik Rendika Rama.

PSS Sleman juga punya dua, yakni Asyraq Gurfron dan Bagus Nirwanto. Itu belum termasuk Alfonsius Kelvan (Persela Lamongan), Dimas Galih (Persik Kediri), Fandi Eko (PSIS Semarang).

Divisi Amatir Persebaya sempat mengalami kendala lantaran Lapangan Persebaya sekaligus Wisma Persebaya diklaim milik Pemkot Surabaya. Kedua pihak terlibat dalam sengketa sejak pertengahan tahun lalu. Akibatnya, mereka mencari alternatif lapangan lain untuk tetap menggelar pertandingan.

Kini, PT. Persebaya Indonesia berhak kembali menempati lapangan dan wisma tersebut. Mereka berhasil memenangi gugatan di PN Surabaya dan bisa melanjutkan kembali kompetisi internal di tempat yang seharusnya.